| |
http://abiku2008.multiply.com/
 | good | May 9, '08 2:16 AM for everyone |
Ass… haloooooooo selamat soreee, blognya keren, isinya juga hmmmm…. Menarik, o’yah.. sudah baca laskar pelangi belum??? Kalo sudah, plis yah… bagi-bagi. Kira-kira apa hikmahnya, terus… nilai-nilai pendidikan islam dalam laskar pelangi tuh apa??? Di blz yang panjang yaaaa.. coz it’s very different blz ke mp Q yah (penting banget buat skripsiku hehehe. Terima kasih ya fren sebelumnya.
<a href="http://www.formulabisnis.com/?id=iwanalfarizy" target="_blank"><img src="http://i211.photobucket.com/albums/bb278/iwanalfarizy/addesign-2.gif" border="0" alt="Photobucket"></a>
<a href="http://www.formulabisnis.com/?id=iwanalfarizy" target="_blank"><img src="http://i211.photobucket.com/albums/bb278/iwanalfarizy/addesign2.gif" border="0" alt="Photobucket"></a>
Hikmah Teladan Laskar Pelangi Berita-berita di berbagai media massa dari hari ke hari banyak menceritakan tentang keterpurukan pendidikan di Indonesia, sedemikian sehingga tidak jarang muncul sebuah pertanyaan: Masih adakah harapan bagi kemajuan pendidikan Indonesia? Dua hal yang saya alami selama dua minggu belakangan ini memberikan secercah jawaban positif: Kunjungan saya ke Sekolah Dasar Hikmah Teladan (SDHT) di Cimahi, dan kesempatan untuk membaca Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Di SDHT, saya melihat bagaimana anak-anak kelas 3 telah paham perbedaan antara sampah organik dan anorganik dan bahkan berkampanye ke adik-adik kelas mereka untuk memilah sampah. Beberapa anak yang sedang mengumpulkan sampah organik, menemukan sampah-sampah jenis lain, dan sebagian meneliti secara independen mana jenis sampah yang lebih mudah terbakar oleh sinar matahari yang difokuskan melalui lensa pembesar. Di tengah keasyikan mereka di lapangan sekolah, mereka dapat menjelaskan kepada saya urutan jenis bahan dari yang paling mudah terbakar menuju ke yang paling sulit terbakar: kertas koran, daun kering, plastik, kertas biasa, karton, dan kertas timah. Di depan sebuah kelas 4, saya melihat anak-anak membentuk dua barisan di beranda kelas mereka, anak-anak lelaki dan, di depan mereka, anak-anak perempuan. Rupanya mereka diminta untuk secara berpasang-pasangan menemukan persamaan diantara mereka. Ibu Nurani, guru kelas tersebut, rupanya mengamati cukup seringnya perselisihan yang terjadi antar-jender, dan berharap melalui kegiatan ini masing-masing anak dapat menemukan banyak persamaan diantara lelaki dan perempuan. Satu kelompok bahkan berhasil mendaftarkan 26 jenis persamaan yang mereka miliki, dari yang standar seperti makanan, binatang, warna, buah kesukaan, sampai ke merek motor yang dimiliki keluarga dan ukuran sepatu. Kedua kelas di atas merupakan representasi dari kelas karakter, sebuah mata pelajaran yang unik untuk SDHT, yang menurut Bapak Aripin Ali, kepala Litbang SDHT, berupaya untuk ?membangun kesadaran internal dalam diri anak, membangun kepekaan terhadap masalah, dan meningkatkan kapasitas berpikir anak?. Melalui kelas karakter, pembelajaran mengenai akhlak dan agama diharapkan dapat berlangsung ?tidak secara dogmatis, namun berupaya membangun kewibawaan dalam diri anak sehingga penanaman nilai pada diri anak dapat terjadi tanpa menggunakan bahasa-bahasa kekerasan seperti hukuman, ancaman, larangan, dll.? Melalui Laskar Pelangi, saya berkenalan dengan tokoh-tokoh yang diinspirasi oleh orang-orang yang dikenal baik oleh Andrea Hirata. Dengan gaya bahasanya yang kocak tapi juga mengharukan, nyeleneh tapi juga penuh makna, Andrea bercerita tentang Pak Harfan, kepala sekolah SD Muhammadiyah di Belitong, yang ?buruk rupa dan buruk pula setiap apa yang disandangnya, tapi pemikirannya jernih dan kata-katanya bercahaya? (hlm. 25); tentang Lintang, ?anak lelaki [pesisir] kecil kotor [dan melarat] berambut keriting merah ... dan berbau hangus seperti karet terbakar ... [tapi yang] akan menerangi nebula yang melingkupi sekolah miskin ini sebab ia akan berkembang menjadi manusia paling genius yang pernah kujumpai seumur hidupku? (hlm 3, 10, 15); dan tentang Bu Mus, guru ?berbedak tepung beras yang ... membuat wajahnya coreng moreng [apabila berkeringat] ... [tapi] adalah seorang guru yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan jauh ke depan (hlm. 2, 30). Cerita-cerita keseharian seperti ini yang saya lihat di SDHT dan yang saya baca melalui gubahan imajinasi Andrea Hirata di Laskar Pelangi, bagi saya adalah kesuksesan-kesuksesan yang mungkin terlalu kecil untuk menangkap perhatian media massa, namun mengandung harapan-harapan bagi terjadinya perubahan yang lebih mendasar dalam sistem pendidikan di Indonesia. Saya rasa cerita-cerita dan kesuksesan-kesuksesan kecil semacam inilah yang perlu kita rayakan dalam keseharian kita, agar kita tidak tenggelam dalam ketidakberdayaan dan permasalahan yang tak berujung pangkal. Saya harap Anda dapat membagikan cerita-cerita kecil Anda baik dengan memberikan komentar untuk tulisan ini maupun melalui sarana-sarana lainnya. http://ruangjeda.blogspot.com/2008/04/hikmah-teladan-laskar-pelangi.html
NOVEL Laskar Pelangi karya Andrea Hirata mencatat sukses luar biasa. Mungkin inilah novel paling fenomenal karya anak bangsa dalam sejarah sastra Indonesia. Sejak diterbitkan September 2005 oleh Bentang, novel itu sudah naik cetak hingga 17 kali dan terjual sekitar 200 ribu eksemplar. Sukses itu juga diikuti dua novel berikutnya yang menjadi bagian dari tetralogi Laskar Pelangi, yakni Sang Pemimpi dan Edensor. Satu novel lagi adalah Maryamah Karpov. Novel terakhir itu sudah selesai ditulis, tapi direncanakan baru terbit tahun depan. Setelah Malaysia, Singapura segera menyusul menerbitkan novel tersebut. Laskar Pelangi juga sudah dilirik sebuah penerbit dari Spanyol untuk diterbitkan di beberapa negara Eropa. Seiring dengan kesuksesan Laskar Pelangi, nama Andrea Hirata pun langsung melesat dalam jagat sastra Indonesia. Namanya menjadi perbincangan. Andrea pun makin sibuk memenuhi berbagai undangn talkshow, diskusi, bedah buku, maupun menerima penghargaan. Padahal, sebelumnya tidak banyak orang tahu, siapa itu Andrea Hirata. Orang Jepang? Laki-laki atau perempuan? Andrea yang memakai baju hitam bergaris-garis putih tipis hari itu (8/12) berada di Jogja. Dia menjadi pembicara dalam diskusi Perempuan dan Sastra di Pusat Studi Wanita (PSW) UGM. Perjalanan karir dan proses kepengarangan Andrea agak unik. Setelah lulus SMA pada 1992, Andrea memutuskan keluar dari Belitung. Dia naik kapal laut menuju Jakarta. Dari ibu kota, dia malah terdampar di Bogor. Di kota hujan Andrea menjadi tukang sortir surat di kantor pos setempat. "Waktu itu namanya tenaga lepas harian atau TLH," kenangnya. Pada 1993, berbekal uang hasil menabung selama menjadi TLH, Andrea mengikuti ujian masuk perguruan tinggi (UMPTN). Dia memilih Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia (UI). Ternyata Andrea diterima. Bahkan, dia bisa menyelesaikan masa studi hanya dalam 3,5 tahun. Andrea pun lulus dengan menyandang predikat cum laude. "Kalau urusan sekolah, saya memang serius karena dari dulu saya senang belajar," katanya. Lulus dari FE UI, Andrea mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Université de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, Inggris. Tesis Andrea di bidang telekomunikasi ekonomi mendapat penghargaan dari dua universitas tersebut dan kembali lulus cum laude. "Sebenarnya ada tawaran lagi untuk mengambil S-3. Tapi, saya tolak. Ketinggian. Saya khawatir nanti tidak bisa memberikan kontribusi yang sepadan. S-2 saja sudah cukup tinggi," katanya. Karena itu, begitu S-2-nya selesai, Andrea memilih kembali ke tanah air dan bekerja di PT Telkom. Sebelum di Bandung, dia sempat berdinas di PT Telkom Surabaya selama dua tahun. Menjadi penulis sama sekali bukan cita-citanya. Jangankan menulis, membaca karya-karya sastra saja, Andrea hampir tidak pernah. Dia lebih menyukai buku-buku sains dan teknologi. "Baru satu karya sastra yang saya baca," katanya. Karena itu, dia menolak dianggap sebagai sastrawan atau penulis. Laskar Pelangi sebetulnya juga bukan dimaksudkan untuk ditulis menjadi sebuah novel. Itu sebuah memoar masa kecil Andrea ketika masih bersekolah di sebuah SD di Belitung. Buku itu dia tulis untuk gurunya: Ibu Muslimah Hafsari. Satu ketika, kenang dia, Andrea dan teman-teman sekelas menunggu Bu Muslimah di depan kelas. Waktu itu hujan sangat deras. Mereka menunggu-nunggu dengan rasa cemas, takut sang guru idola tidak datang. "Tiba-tiba dari sudut lapangan sekolah muncul beliau berjalan kaki sambil berpayungkan daun pisang. Kami semua gembira melihat kedatangan beliau. Dan, saat itu, dalam hati saya berjanji bahwa saya harus menulis tentang beliau," cerita Andrea. Sebagai karyawan PT Telkom yang sibuk, Andrea tak kunjung menulis cerita untuk Bu Mus. Sampai suatu saat ketika baru pulang menjadi relawan di Aceh, Andrea dikabari teman-temannya di Belitung bahwa Bu Mus sakit keras. "Katanya sudah parah banget," tutur Andrea. Mendengar kabar tersebut, Andrea ingat dengan janjinya beberapa tahun lalu. Gejolak untuk memberikan penghargaan kepada gurunya pun kembali meruap. Andrea akhirnya bersicepat menulis, berpacu dengan waktu karena takut terjadi apa-apa dengan Bu Mus. Dalam waktu tiga bulan, tulisan itu selesai. Tulisan itu kemudian diperbanyak untuk dibagi-bagikan sesuai jumlah teman dan gurunya di Belitung. "Lalu saya jilid dan saya juga kasih cover sendiri," tambah Andrea. Mengapa cerita itu sampai menjadi novel yang sukses, menurut Andrea, bukan suatu kesengajaan. Bermula ketika laptop Andrea tertinggal di kamarnya. Andrea meminta salah seorang teman di Telkom mengambilkannya. Saat mengambil laptop, teman itu melihat naskah Laskar Pelangi di dalam kamar Andrea, Setelah membaca naskah tersebut, teman Andrea terkesima dengan cerita di dalamnya. Diam-diam dia mengirimkan naskah itu ke penerbit tanpa setahu Andrea. Hingga, suatu hari, Andrea ditelepon pimpinan penerbit Bentang Gangsar Sukrisno yang memuji naskah Laskar Pelangi dan berniat menerbitkannya. "Naskah ini luar biasa. Tapi, Anda siapa?" kata Andrea menirukan pertanyaan Sukrisno. Andrea memahami pertanyaan tersebut. Sebab, di dunia sastra dia bukan siapa-siapa. "Bagaimana mungkin saya dikenal, menulis sepotong cerpen pun tidak pernah," ujar Andrea yang punya minat besar pada antropologi. Singkat cerita, setelah dia meminta pertimbangan kepada teman-temannya di Belitung dan juga ibunya, Andrea mengizinkan Laskar Pelangi diterbitkan. Dan di luar dugaannya, novel itu sukses luar biasa. Tanggapan dan pujian dari para pembaca buku terus mengalir. Laskar Pelangi adalah memoar masa kecil Andrea Hirata. Berkisah tentang 10 anak SD Muhammadiyah Belitung yang kemudian dijuluki Laskar Pelangi dalam memperoleh pendidikan. Guru mereka, Bu Muslimah, yang sangat dihormati oleh Andrea sangat perhatian kepada murid-muridnya. Jadi, peristiwa yang ditulis di novel tersebut adalah faktual, benar-benar ada, meski peristiwanya terjadi puluhan tahun lalu. Andrea menceritakannya dengan begitu detail. "Bagi anak kecil, peristiwa yang traumatis akan sangat membekas sampai kapan pun," katanya. Beberapa pembaca mengaku sangat terinspirasi dengan novel ini. Terutama oleh sosok Bu Guru Muslimah. Seorang perempuan aktivis Aisyiyah dalam diskusi di PSW mengaku sangat terinspirasi oleh Bu Muslimah. Sampai-sampai ketika memberikan pelatihan kepada guru-guru di desa, dia menggunakan novel Laskar Pelangi sebagai referensi untuk menggugah semangat para guru di sana. Karena banyak pembaca yang menanyakan kelanjutan kisah tokoh-tokoh dalam Laskar Pelangi, Andrea lalu membuat novel kedua Sang Pemimpi dan ketiga Edensor dari empat novel yang dia rencanakan. Sambutan terhadap dua novel itu juga luar biasa. Edensor bahkan masuk dalam nominasi lima besar karya sastra terbaik Katulistiwa Literaly Award (KLA) 2007. Andrea tidak menyangka novelnya bakal masuk nominasi. "Bagi saya, masuk 10 besar saja sudah merasa menang. Eh, sekarang malah lima besar," katanya. Andrea memang bangga Edensor masuk nominasi KLA. Apalagi, saingannya adalah para penulis yang memang sudah lama bergelut di dunia sastra. Misalnya, Gus TF Sakai, Seno Gumira Ajidarma, dan Cok Savitri. "Dibanding mereka saya belum ada apa-apanya," ujar Andrea merendah. Sukses Laskar Pelangi ternyata menarik minat produser film untuk mengangkatnya ke layar lebar. Dari beberapa produser yang meminangnya, Andre memilih Mira Lesmana dan Riri Reza sebagai sutradara film Laskar Pelangi. Andrea menyadari, banyak pembaca novelnya yang tidak setuju Laskar Pelangi diangkat ke layar lebar. Sebab, ada kekhawatiran, filmnya tidak akan seperti di buku. Bahkan, kata Andrea, dalam sebuah diskusi di Bandung, sang moderator mengajukan pertanyaan kepada audien, siapa yang tak setuju Laskar Pelangi difilmkan. "Hampir semua mengangkat tangan," tuturnya. Andrea bisa memahami kekhawatiran tersebut. Meski bakal banyak mendapat tentangan dari para pembaca novelnya, Andrea bergeming dengan keputusannya. "Saya ingin dapat touch dari sineas yang punya perspektif lain terhadap Laskar Pelangi. Sebab, ini kisah tentang semangat manusia. Dan, itu harus terpajang jelas dalam film," katanya. NOVEL Laskar Pelangi karya Andrea Hirata mencatat sukses luar biasa. Mungkin inilah novel paling fenomenal karya anak bangsa dalam sejarah sastra Indonesia. Sejak diterbitkan September 2005 oleh Bentang, novel itu sudah naik cetak hingga 17 kali dan terjual sekitar 200 ribu eksemplar. Sukses itu juga diikuti dua novel berikutnya yang menjadi bagian dari tetralogi Laskar Pelangi, yakni Sang Pemimpi dan Edensor. Satu novel lagi adalah Maryamah Karpov. Novel terakhir itu sudah selesai ditulis, tapi direncanakan baru terbit tahun depan. Jika digabungkan, oplah tiga novel tersebut hampir 500 ribu kopi. Itu baru di Indonesia saja. Sebab, Laskar Pelangi juga sudah dibeli oleh penerbit buku di Malaysia. Di negeri jiran buku itu langsung menjadi best seller. Setelah Malaysia, Singapura segera menyusul menerbitkan novel tersebut. Laskar Pelangi juga sudah dilirik sebuah penerbit dari Spanyol untuk diterbitkan di beberapa negara Eropa. Seiring dengan kesuksesan Laskar Pelangi, nama Andrea Hirata pun langsung melesat dalam jagat sastra Indonesia. Namanya menjadi perbincangan. Andrea pun makin sibuk memenuhi berbagai undangn talkshow, diskusi, bedah buku, maupun menerima penghargaan. Padahal, sebelumnya tidak banyak orang tahu, siapa itu Andrea Hirata. Orang Jepang? Laki-laki atau perempuan? Sepintas namanya memang mirip nama orang dari negara Matahari Terbit. Tapi, sejatinya dia asli Melayu, berasal dari Pulau Belitung (sekarang masuk Provinsi Bangka Belitung). Kampung halamannya (dia lebih suka menyebut Belitong) inilah yang menjadi setting novel Laskar Pelangi. Andrea Hirata lahir pada 24 Oktober di Belitung. Sayang, dia merahasiakan tahun kelahirannya. "Tahunnya confidential (rahasia)," katanya kepada Radar Jogja (Grup Jawa Pos) di Kedai Kebun, Jogja. Andrea yang memakai baju hitam bergaris-garis putih tipis hari itu (8/12) berada di Jogja. Dia menjadi pembicara dalam diskusi Perempuan dan Sastra di Pusat Studi Wanita (PSW) UGM. Perjalanan karir dan proses kepengarangan Andrea agak unik. Setelah lulus SMA pada 1992, Andrea memutuskan keluar dari Belitung. Dia naik kapal laut menuju Jakarta. Dari ibu kota, dia malah terdampar di Bogor. Di kota hujan Andrea menjadi tukang sortir surat di kantor pos setempat. "Waktu itu namanya tenaga lepas harian atau TLH," kenangnya. Pada 1993, berbekal uang hasil menabung selama menjadi TLH, Andrea mengikuti ujian masuk perguruan tinggi (UMPTN). Dia memilih Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia (UI). Ternyata Andrea diterima. Bahkan, dia bisa menyelesaikan masa studi hanya dalam 3,5 tahun. Andrea pun lulus dengan menyandang predikat cum laude. "Kalau urusan sekolah, saya memang serius karena dari dulu saya senang belajar," katanya. Lulus dari FE UI, Andrea mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Université de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, Inggris. Tesis Andrea di bidang telekomunikasi ekonomi mendapat penghargaan dari dua universitas tersebut dan kembali lulus cum laude. "Sebenarnya ada tawaran lagi untuk mengambil S-3. Tapi, saya tolak. Ketinggian. Saya khawatir nanti tidak bisa memberikan kontribusi yang sepadan. S-2 saja sudah cukup tinggi," katanya. Karena itu, begitu S-2-nya selesai, Andrea memilih kembali ke tanah air dan bekerja di PT Telkom. Sebelum di Bandung, dia sempat berdinas di PT Telkom Surabaya selama dua tahun. Menjadi penulis sama sekali bukan cita-citanya. Jangankan menulis, membaca karya-karya sastra saja, Andrea hampir tidak pernah. Dia lebih menyukai buku-buku sains dan teknologi. "Baru satu karya sastra yang saya baca," katanya. Karena itu, dia menolak dianggap sebagai sastrawan atau penulis. Laskar Pelangi sebetulnya juga bukan dimaksudkan untuk ditulis menjadi sebuah novel. Itu sebuah memoar masa kecil Andrea ketika masih bersekolah di sebuah SD di Belitung. Buku itu dia tulis untuk gurunya: Ibu Muslimah Hafsari. Satu ketika, kenang dia, Andrea dan teman-teman sekelas menunggu Bu Muslimah di depan kelas. Waktu itu hujan sangat deras. Mereka menunggu-nunggu dengan rasa cemas, takut sang guru idola tidak datang. "Tiba-tiba dari sudut lapangan sekolah muncul beliau berjalan kaki sambil berpayungkan daun pisang. Kami semua gembira melihat kedatangan beliau. Dan, saat itu, dalam hati saya berjanji bahwa saya harus menulis tentang beliau," cerita Andrea. Sebagai karyawan PT Telkom yang sibuk, Andrea tak kunjung menulis cerita untuk Bu Mus. Sampai suatu saat ketika baru pulang menjadi relawan di Aceh, Andrea dikabari teman-temannya di Belitung bahwa Bu Mus sakit keras. "Katanya sudah parah banget," tutur Andrea. Mendengar kabar tersebut, Andrea ingat dengan janjinya beberapa tahun lalu. Gejolak untuk memberikan penghargaan kepada gurunya pun kembali meruap. Andrea akhirnya bersicepat menulis, berpacu dengan waktu karena takut terjadi apa-apa dengan Bu Mus. Dalam waktu tiga bulan, tulisan itu selesai. Tulisan itu kemudian diperbanyak untuk dibagi-bagikan sesuai jumlah teman dan gurunya di Belitung. "Lalu saya jilid dan saya juga kasih cover sendiri," tambah Andrea. Mengapa cerita itu sampai menjadi novel yang sukses, menurut Andrea, bukan suatu kesengajaan. Bermula ketika laptop Andrea tertinggal di kamarnya. Andrea meminta salah seorang teman di Telkom mengambilkannya. Saat mengambil laptop, teman itu melihat naskah Laskar Pelangi di dalam kamar Andrea, Setelah membaca naskah tersebut, teman Andrea terkesima dengan cerita di dalamnya. Diam-diam dia mengirimkan naskah itu ke penerbit tanpa setahu Andrea. Hingga, suatu hari, Andrea ditelepon pimpinan penerbit Bentang Gangsar Sukrisno yang memuji naskah Laskar Pelangi dan berniat menerbitkannya. "Naskah ini luar biasa. Tapi, Anda siapa?" kata Andrea menirukan pertanyaan Sukrisno. Andrea memahami pertanyaan tersebut. Sebab, di dunia sastra dia bukan siapa-siapa. "Bagaimana mungkin saya dikenal, menulis sepotong cerpen pun tidak pernah," ujar Andrea yang punya minat besar pada antropologi. Singkat cerita, setelah dia meminta pertimbangan kepada teman-temannya di Belitung dan juga ibunya, Andrea mengizinkan Laskar Pelangi diterbitkan. Dan di luar dugaannya, novel itu sukses luar biasa. Tanggapan dan pujian dari para pembaca buku terus mengalir. Laskar Pelangi adalah memoar masa kecil Andrea Hirata. Berkisah tentang 10 anak SD Muhammadiyah Belitung yang kemudian dijuluki Laskar Pelangi dalam memperoleh pendidikan. Guru mereka, Bu Muslimah, yang sangat dihormati oleh Andrea sangat perhatian kepada murid-muridnya. Jadi, peristiwa yang ditulis di novel tersebut adalah faktual, benar-benar ada, meski peristiwanya terjadi puluhan tahun lalu. Andrea menceritakannya dengan begitu detail. "Bagi anak kecil, peristiwa yang traumatis akan sangat membekas sampai kapan pun," katanya. Beberapa pembaca mengaku sangat terinspirasi dengan novel ini. Terutama oleh sosok Bu Guru Muslimah. Seorang perempuan aktivis Aisyiyah dalam diskusi di PSW mengaku sangat terinspirasi oleh Bu Muslimah. Sampai-sampai ketika memberikan pelatihan kepada guru-guru di desa, dia menggunakan novel Laskar Pelangi sebagai referensi untuk menggugah semangat para guru di sana. Karena banyak pembaca yang menanyakan kelanjutan kisah tokoh-tokoh dalam Laskar Pelangi, Andrea lalu membuat novel kedua Sang Pemimpi dan ketiga Edensor dari empat novel yang dia rencanakan. Sambutan terhadap dua novel itu juga luar biasa. Edensor bahkan masuk dalam nominasi lima besar karya sastra terbaik Katulistiwa Literaly Award (KLA) 2007. Andrea tidak menyangka novelnya bakal masuk nominasi. "Bagi saya, masuk 10 besar saja sudah merasa menang. Eh, sekarang malah lima besar," katanya. Andrea memang bangga Edensor masuk nominasi KLA. Apalagi, saingannya adalah para penulis yang memang sudah lama bergelut di dunia sastra. Misalnya, Gus TF Sakai, Seno Gumira Ajidarma, dan Cok Savitri. "Dibanding mereka saya belum ada apa-apanya," ujar Andrea merendah. Sukses Laskar Pelangi ternyata menarik minat produser film untuk mengangkatnya ke layar lebar. Dari beberapa produser yang meminangnya, Andre memilih Mira Lesmana dan Riri Reza sebagai sutradara film Laskar Pelangi. Andrea menyadari, banyak pembaca novelnya yang tidak setuju Laskar Pelangi diangkat ke layar lebar. Sebab, ada kekhawatiran, filmnya tidak akan seperti di buku. Bahkan, kata Andrea, dalam sebuah diskusi di Bandung, sang moderator mengajukan pertanyaan kepada audien, siapa yang tak setuju Laskar Pelangi difilmkan. "Hampir semua mengangkat tangan," tuturnya. Andrea bisa memahami kekhawatiran tersebut. Meski bakal banyak mendapat tentangan dari para pembaca novelnya, Andrea bergeming dengan keputusannya. "Saya ingin dapat touch dari sineas yang punya perspektif lain terhadap Laskar Pelangi. Sebab, ini kisah tentang semangat manusia. Dan, itu harus terpajang jelas dalam film," katanya. copy data dari Halaman Utama www.jawapos.co.id edisi 13 desember 2007
Pendidikan Laskar Pelangi laskar pelangi in action Laskar Pelangi: Pintu Keajaiban untuk Mengubah Paradigma Dunia Pendidikan Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota Laskar Pelangi. Sebelas orang anak Melayu Belitong yang luar biasa ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka. Tengoklah Lintang, seorang kuli kopra cilik yang genius dan dengan senang hati bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk memuaskan dahaganya akan ilmu?bahkan terkadang hanya untuk menyanyikan Padamu Negeri di akhir jam sekolah. Atau Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus. Dan juga sembilan orang Laskar Pelangi lain yang begitu bersemangat dalam menjalani hidup dan berjuang meraih cita-cita. Selami ironisnya kehidupan mereka?, kejujuran pemikiran mereka, indahnya petualangan mereka, dan temukan diri Anda tertawa, menangis, dan tersentuh saat membaca setiap lembarnya. Buku ini dipersembahkan buat mereka yang meyakini the magic of childhood memories, dan khususnya juga buat siapa saja yang masih meyakini adanya pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia: pendidikan. cerita yang sangat mengharukan tentang dunia pendidikan dengan tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal, takwa, [yang] dituturkan secara indah dan cerdas. Pada dasarnya kemiskinan tidak berkorelasi langsung dengan kebodohan atau kegeniusan. Sebagai penyakit sosial kemiskinan harus diperangi dengn metode pendidikan yang tepat guna. Dalam hubungan itu hendaknya semua pihak berpartisipasi aktif sehingga terbangun sebuah monumen kebajikan di tengah arogansi uang dan kekuasaan materi.? [Novel ini menunjukkan pada kita] bahwa pendidikan adalah memberikan hati kita kepada anak-anak, bukan sekadar memberikan instruksi atau komando, dan bahwa setiap anak memiliki potensi unggul yang akan tumbuh menjadi prestasi cemerlang di masa depan. Ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, yang menjawab inti pertanyaan kita tentang hubungan-hubungan antara gagasan sederhana, kendala, dan kualitas pendidikan.? ?Di tengah berbagai berita dan hiburan televisi tentang sekolah yang tak cukup memberi inspirasi dan spirit, maka buku ini adalah pilihan yang menarik. Buku ini ditulis dalam semangat realis kehidupan sekolah, sebuah dunia tak tersentuh, sebuah semangat bersama untuk survive dalam semangat humanis yang menyentuh http://ardhana12.wordpress.com/2008/03/27/laskar-pelangi-pintu-keajaiban-untuk-mengubah-paradigma-dunia-pendidikan/
Sebuah niatan bagus. Saya sendiri dulu pernah berniat untuk melakukan perbanyakan buku laskar pelangi untuk dibagikan ke sekolah-sekolah, ditaruh di perpustakaan. sebagai bacaan ?wajib? ketika waktu senggang bagi siswa dan guru. Saya mencoba mencari kontak ke andrea hirata. Oleh seorang teman, saya hanya mendapatkan kontak ke Riri Riza yang katanya akan membuat film-nya Laskar Pelangi. Waktu itu, salah seorang pejabat di Diknas yang saya kenal baik berkenan membantu mendanai. Kebetulan tahun kemaren saya masih jadi konsultan disana. Saya memang menyampaikan rencana saya ke beliau. Namun waktu itu beliau sedang di Paris. Saya ingin mengontak Andrea dengan tujuan agar rencana ini tidak dilihat dalam kacamata bisnis. Artinya, saya berfikir buku tersebut sebaiknya dicetak dalam konsep ?not for sale?, dicetak dengan kertas murah, sehingga dengan uang seadanya, bisa menghasilkan lebih banyak buku. Sayang, menurut teman saya Andrea tidak akan menyukai jika saya membawa-bawa institusi pemerintahan dalam aktifitas ini. Dan sayang juga, saya tidak punya ?bendera? yang bisa dibawa, karena butuh lembaga resmi untuk mengajukan bantuan tersebut ke Diknas. Akhirnya rencana ini kandas. Back to Andrea Plan, saya fikir ide Andrea sangat bagus. Memang perlu dibangkitkan kembali rasa kecintaan kita kepada guru, mengembalikan guru pada tempatnya yang mulia, dan menyadarkan guru bahwa profesi tersebut adalah profesi mulia yang sayang jika terkotori oleh permasalahan kehidupan belaka. Menyadarkan pemerintah; dan tentu kita semua; atas tanggungjawabnya mencerdaskan kehidupan bangsa. Juga menyadarkan kita akan pentingnya membangun dan menggapai mimpi, bahwa masih banyak orang yang kehidupannya jauh lebih parah dari kita namun mampu meraih apa yang diinginkan. Melahirkan lebih banyak orang-orang Indonesia yang merasa termarginalkan, tapi justru menjadi terpacu atas ke-marginal-annya. Semoga Andrea Hirata tidak terjebak pada eforia. Tidak sedikit orang yang masih sangat lurus atas rencananya ketika diawal, dan tidak sedikit yang akhirnya terpleset atas puja puji orang. Seperti ?curhatan? Aa? Gym di acara Kick Andy beberapa waktu lalu, episode ke 3, adalah episode berbahaya, ketika semua kemudahan datang, puja puji berlimpahan. Padahal justru disitu lah bahaya datang mengancam. Semoga mimpi Andrea Hirata tidak berhenti hanya menghidupkan kembali Sekolah Muhammadiyah yang membesarkannya. Tapi berkembang menjadi kegiatan yang ?menghidupkan kembali? dunia pendidikan kita dan membawanya ke jalan yang benar. Saya yakin ada banyak sekolah-sekolah lainnya yang membutuhkan bantuan. Andai Andrea Hirata punya energi, membuat institusi yang benar-benar fokus membantu dunia pendidikan kita dalam skala besar. Saya yakin akan banyak orang yang bersedia membantunya. Yang penting, menjaga konsistensi dari tujuan mulia, dan menjaga agar tujuan tersebut tidak terkotori oleh ?free rider? yang hanya ingin numpang populer. http://www.edo.web.id/wp/2008/01/29/laskar-pelangi-in-action/
Acara memang mulai telat, tapi antisipasi dari manajemen Mas Ikal cukup baik karena sekitar jam 13.00 acara segera diisi dengan pemutaran wawancara Mas Ikal oleh salah satu stasiun TV berlangganan. Satu hal yang bisa kuambil sebagai pelajaran dari wawancara itu, apapun keputusan yang kita ambil dalam hidup akhirnya harus mengarah pada memberikan manfaat bagi banyak orang. Entah sebagai penulis novel atau seorang pakar ekonomi komunikasi, bagi seorang Andrea yang disatu sisi adalah penulis tetapi disisi lain merupakan pegawai Telkom bukan merupakan suatu pilihan yang berarti. Baginya apapun yang ia pilih kemudian, yang penting adalah seberapa besar kontribusi yang bisa ia berikan bagi banyak orang. Saat ini Laskar Pelangi telah menjadi salah satu buku paling berpengaruh dalam sastra Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari angka penjualannya yang segera akan menembus angka setengah juta copy, hanya untuk dalam negeri saja. Itu belum dihitung dengan angka penjualan buku bajakan yang harganya hanya sekitar setengah dari aslinya dan jelas tidak terkontrol jumlahnya. Belum lagi dengan rencana pemerintah Norwegia yang akan menerjemahkannya untuk konsumsi publik negara itu. Dari sini aku bisa melihat kekuatan dari sebuah tulisan dalam mempengaruhi mindset orang dan itulah yang kupikir harus bisa kulakukan juga. Wajar jika Laskar Pelangi mampu menginspirasi banyak orang, karena tulisan ini bukanlah sebuah fiksi yang direka-reka. Laskar pelangi fenomenal karena ia ditulis berdasarkan sebuah pengalaman hidup yang nyata dialami si penulisnya. Ia bahkan menjadi populer tanpa perlu memiliki gaya bahasa yang populer dibandingkan karya-karya metropop zaman ini. Gaya bahasa yang berbeda justru menjadi daya tarik tersendiri dari buku ini. Jauh berbeda dengan novel semacam Ayat-Ayat Cinta dan kawan-kawan yang merupakan karangan fiksi, chemistry dari suatu pengalaman nyata yang menakjubkan jelas menjadi pengalaman yang amat jauh mengena dan menginspirasi pembacanya. Menjadi Guru yang Berjiwa Guru Bicara soal Novel ini, kurang afdhal jika tidak bicara tentang pendidikan. Karena inti dari perjalanan panjang Ikal yang nyaris tidak sekolah hingga kemudian bisa lulus cumlaude S2 di Sorbonne adalah bagaimana sistem sistem sosio-kultural dan pendidikan negeri ini telah membuat seorang Lintang tidak dapat memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensinya setinggi-tingginya. Inti dari cerita ini adalah kekecewaan seorang Andrea terhadap pupusnya nasib sahabat sekaligus saingannya dikelas, padahal ia yang paling cerdas dan amat mungkin bisa memberi sesuatu yang besar bagi negeri ini jika saja ia dapat melanjutkan sekolahnya. Bicara tentang pendidikan di mata seorang Andrea adalah bicara tentang betapa mekanistiknya pendidikan negeri ini sehingga siswa-siswa kita belajar sekeras-kerasnya bukan lantaran cinta dengan ilmu pengetahuan, tapi keinginan untuk menembus level sosial yang lebih tinggi. Berbicara tentang pendidikan Laskar Pelangi maka kita berbicara tentang pendidikan yang mencerahkan visi peserta didik dari seorang guru dusun bernama bu Muslimah. Memang banyak hal yang tidak akan habis-habisnya terbahas jika kita membandingkan tokoh-tokoh dibalik memoar itu dengan kondisi pendidikan negeri ini. Metode pendidikan kita yang kian mekanistik secara sistemik telah mencetak generasi robot yang pintar menyelesaikan soal-soal UAN dan SPMB tetapi gagap untuk menyelesaikan persoalan hidup, dan mungkin aku salah satunya. Kita dididik untuk menganggap bahwa bisa berhitung jauh lebih mulia dibandingkan bisa bernyanyi. Kita dididik untuk menganggap bahwa seorang pegawai MNC jauh lebih mulia dibanding seorang seniman jalanan atau desainer grafis. Kita dididik untuk senantiasa mengasah otak kiri kita hingga cerdas dan licik dalam berpikir tetapi disisi lain menumpulkan banyak potensi otak kanan kita yang seharusnya sadar bahwa setiap diri kita begitu unik. Kembali membahas novel ini, kita bicara tentang bagaimana sosok sentral dari pendidikan laskar pelangi yaitu bu Muslimah berusaha mendobrak paradigma-paradigma pendidikan tipikal kita dengan suatu dogma baru. Satu hal yang amat unik dari sosok ini adalah kemampuannya untuk membuat anak-anak dusun (yang digambarkan Andrea didiskusi kemarin adalah desa yang paling pelosok di pesisir pantai belitung timur yang hampir-hampir tidak tercantum dalam peta Indonesia) menjadi bocah-bocah maniak ilmu pengetahuan. Ia mampu menjadikan setiap orang istimewa dengan kekhasannya masing-masing, entah itu dengan kebandelannya, kemampuan matematikanya maupun kemampuan seninya. Beliau dapat membuat para bocah ini begitu merindukan sekolah sehingga hari minggu menjadi mimpi buruk yang harus cepat-cepat diakhiri dan hari senin menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu. Ia pula yang mampu membuat bocah-bocah ini begitu penasaran hingga saat diberikan sebanyak 20 soal PR mereka protes. Bukan lantaran terlalu banyak, tetapi karena mereka berharap lebih dan bahkan jika saja waktu sekolah tidak terbatas maka akan mereka ingin agar PR itu dapat mereka selesaikan saat itu juga. Di balik semua itu, apa yang didapat oleh bu Muslimah sebagai kompensasi dari semua itu? Ia sama sekali bukan sosok pengajar bimbel privat dengan gaji berjuta-juta yang berhasil menjebol pintu kokoh sekolah favorit bagi anak didiknya. Sembilan tahun mengajar tanpa gaji, dengan ijazah tak lebih dari sekolah keputrian nyatanya tidak menghalanginya untuk dapat menjadi guru yang begitu spesial bagi murid-muridnya. Lokasi sekolah yang jauh tidak menghalangi semangat mereka untuk kembali datang dan belajar. Padahal keluarga-keluarga mereka nyaris tidak memiliki hasrat untuk menyekolahkan mereka. Bahkan apa yang mereka sebut ruang kelas pun tak lebih seperti kandang ternak yang reot, dengan atap yang bocor dan bahkan begitu menakutkan bagi para laskar pelangi karena dapat runtuh kapanpun. Tetapi ternyata berbagai kekurangan dan hambatan tak lantas membuat sang guru gagal dan bergeming. Ia tetap mampu membesarkan hati para muridnya sehingga seorang Andrea mampu menjadi seperti sekarang. Itulah yang membuat sosok ini menjadi begitu istimewa. Dikesempatan talkshow kemarin, Andrea sempat bilang bahwa rahasia dibalik itu semua adalah jiwa guru yang ada dalam diri seorang bu Muslimah. Jiwa guru yang dimaksud adalah motivasi tanpa pamrih yang telah berhasil melampaui sekat-sekat batasan ekonomi, fasilitas, sosio-kultur dan bahkan kungkungan paradigma yang selama ini membelenggu masa depan para bocah laskar pelangi itu. Hal yang paling utama adalah, beliau mampu menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan, menjadikan mereka sosok-sosok yang cinta ilmu, sekaligus berhasil menancapkan mimpi-mimpi besar dibenak bocah-bocah kecil itu agar mereka mampu berbuat sesuatu dikemudian hari. Itulah sebuah senjata yang amat berharga yang mampu mengalahkan uang berjuta-juta atau fasilitas bergunung-gunung yang mampu diberikan sebuah sekolah paling favorit sekalipun. Sebuah perhiasan bagi kaum guru yang tidak mungkin ditukarkan dengan anggaran pendidikan sebesar apapun, kurikulum sedahsyat apapun, atau bahkan guru-guru setingkat profesor sekalipun. interpretasiku tentang Komunitas Intelektual Profetik Kata orang, inti dari proses pendidikan adalah memanusiakan manusia. Maksudnya adalah bagaimana para peserta didik dapat menyadari dirinya seutuhnya dan mengetahui segala potensi yang ia miliki untuk kemudian dapat memanfaatkannya untuk menghadapi persoalan-persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan. Hal ini telah terlalu lama hilang dari pendidikan negeri ini. Bahkan mungkin lebih tepatnya tidak pernah ada sejak pertama kali negeri ini berbicara tentang sistem pendidikan. Kita, produk dari sistem ini telah tercetak jadi orang-orang oportunis yang melihat pendidikan sebagai tangga-tangga sosial untuk memperoleh status masyarakat setinggi mungkin dengan kemudian terlupa dengan esensi dari proses pendidikan itu sendiri. Ada segelintir kalangan yang kemudian dapat terselamatkan dari jeratan sistem tersebut. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang tercerahkan karena memiliki kepekaan kondisi sosial masyarakatnya atau mungkin tertempa secara langsung oleh realita tersebut, mungkin salah satunya adalah Andrea Hirata sendiri. Sebagian yang lain tersadarkan dengan adanya pendidikan-pendidikan non-struktural yang diantaranya terbentuk dalam suatu komunitas yang memiliki idealisme dan sistem nilai eksklusif. Proses transfer nilai dalam komunitas semacam ini memberikan nilai lebih kepada orang-orang yang terdidik dalam sistem konvensional tersebut. Sistem yang ada dalam komunitas semacam ini terbukti efektif dalam membentuk karakter individu didalamnya. Tetapi kemudian muncul pertanyaan, mampukah manusia-manusia ini memberikan pencerahan bagi orang-orang diluar komunitas ini atau bahkan orang-orang yang ada dekat disekitarnya? Pertanyaan ini akan bermuara kepada visi yang dibawa oleh komunitas tadi beserta bentuk interpretasi dari tiap individu didalamnya yang mungkin akan amat berbeda satu sama lain. Akhirnya apa yang kemudian terjadi pada nasib kesepuluh orang Laskar Pelangi telah membuktikan bahwa butuh lebih dari sosok individu bu Muslimah untuk melawan arus dari sistem masyarakat yang sudah terlanjur lapuk dan miskin mimpi besar. Effort besar dari satu orang guru itu nyatanya tidak mampu membuat keseluruhan murid-muridnya untuk beranjak dari kungkungan masa depan yang suram. Akhirnya tidak semua orang dan potensi yang ada benar-benar tergali hanya dengan kekuatan satu orang saja. Dan ternyata hanya sedikit orang saja dari didikan bu Muslimah yang mampu untuk survive dan memberikan kontribusi besar. Ini dapat kita ambil sebagai pelajaran penting bahwa kesendirian dalam idealisme bukanlah sebuah solusi. Untuk mewujudkan idealisme atau mimpi tadi visi itu butuh untuk dibagi dan ditularkan pada orang lain. Kekuatan yang dimiliki oleh sebuah komunitas yang memiliki mimpi besar tersebut kemudian baru akan muncul jika masing-masing telah memiliki keterikatan emosional dan saling berbagi gagasan tentang bagaimana mewujudkannya. Dari komunitas semacam itulah kita dapat berharap suatu perubahan besar dapat terwujud. (Bersambung) http://ardee.cmsku.org/2008/02/pendidikan-laskar-pelangi-1/
Berikut beberapa bait ?Laskar Pelangi? : Lintang adalah pribadi yang unik. Banyak orang merasa dirinya pintar lalu bersikap seenaknya, congkak, tidak disiplin, dan tak punya integritas. Tapi Lintang sebaliknya. Ia tak pernah tinggi hati, karena ia merasa ilmu demikian luas untuk disombongkan dan menggali ilmu tak akan ada habis-habisnya. Meskipun rumahnya paling jauh tapi kalau datang ia paling pagi. Wajah manisnya senantiasa bersinar walaupun baju, celana, dan sandal cunghai-nya buruknya minta ampun. Namun sungguh kuasa Allah, di dalam tempurung kepalanya yang ditumbuhi rambut gimbal awut-awutan itu tersimpan cairan otak yang encer sekali. Pada setiap rangkaian kata yang ditulisnya secara acak-acakan tersirat kecemerlangan pemikiran yang gilang gemilang. Di balik tubuhnya yang tak terawat, kotor, miskin, serta berbau hangus, dia memiliki an absolutely beautiful mind. Ia adalah buah akal yang jernih, bibit genius asli, yang lahir di sebuah tempat nun jauh di pinggir laut, dari sebuah keluarga yang tak satu pun bisa membaca. Lebih dari itu, seperti dulu kesan pertama yang kutangkap darinya, ia laksana bunga meriam yang melontarkan tepung sari. Ia lucu, semarak, dan penuh vitalitas. Ia memperlihatkan bagaimana ilmu bisa menjadi begitu menarik dan ia menebarkan hawa positif sehingga kami ingin belajar keras dan berusaha menunjukkan yang terbaik. Jika kami kesulitan, ia mengajari kami dengan sabar dan selalu membesarkan hati kami. Keunggulannya tidak menimbulkan perasaan terancam bagi sekitarnya, kecemerlangannya tidak menerbitkan iri dengki, dan kehebatannya tidak sedikit pun mengisyaratkan sifat-sifat angkuh. Kami bangga dan jatuh hati padanya sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang murid yang cerdas luar biasa. Lintang yang miskin duafa adalah mutiara, galena, kuarsa, dan topas yang paling berharga bagi kelas kami. - - - o o o - - - Suatu hari dalam pelajaran budi pekerti, Bu Mus menjelaskan tentang karakter yang dituntut Islam dari seorang amir. Amir dapat berarti seorang pemimpin. Beliau menyitir perkataan Khalifah Umar bin Khatab. ?Barangsiapa yang kami tunjuk sebagai amir dan telah kami tetapkan gajinya untuk itu, maka apa pun yang ia terima selain gajinya itu adalah penipuan!? Rupanya Bu Mus geram dengan korupsi yang merajalela di negeri ini dan beliau menyambung dengan lantang. ?Kata-kata itu mengajarkan arti penting memegang amanah sebagai pemimpin dan Al-Qur?an mengingatkan bahwa kepemimpinan seseorang akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat ?.? Kami terpesona mendengarnya, namun Kucai gemetar. Mendapati dirinya sebagai seorang pemimpin kelas ia gamang pada pertanggungjawaban setelah mati nanti, apalagi sebagai seorang politisi ia menganggap bahwa menjadi ketua kelas itu tidak ada keuntungannya sama sekali. Tidak adil! Lagi pula ia sudah muak mengurusi kami. Kami terkejut karena serta-merta ia berdiri dan berdalih secara diplomatis. ?Ibunda Guru, Ibunda mesti tahu bahwa anak-anak kuli ini kelakuannya seperti setan. Sama sekali tak bisa disuruh diam, terutama Borek, kalau tak ada guru ulahnya ibarat pasien rumah sakit jiwa yang buas. Aku sudah tak tahan, Ibunda, aku menuntut pemungutan suara yang demokratis untuk memilih ketua kelas baru. Aku juga tak sanggup mempertanggungjawabkan kepemimpinanku di padang Mahsyar nanti, anak-anak kumal ini yang tak bisa diatur ini hanya akan memberatkan hisabku!? Kucai tampak sangat emosional. Tangannya menunjuk-nunjuk ke atas dan napasnya tersengal setelah menghamburkan unek-unek yang mungkin telah dipendamnya bertahun-tahun. Ia menatap Bu Mus dengan mata nanar tapi pandangannya ke arah gambar Rhoma Irama Hujan Duit. Kami semua menahan tawa melihat pemandangan itu tapi Kucai sedang sangat serius, kami tak ingin melukai hatinya. Bu Mus juga terkejut. Tak pernah sebelumnya beliau menerima tanggapan selugas itu dari muridnya, tapi beliau maklum pada beban yang dipikul Kucai. Beliau ingin bersikap seimbang maka beliau segera menyuruh kami menuliskan nama ketua kelas baru yang kami inginkan di selembar kertas, melipatnya, dan menyerahkannya kepada beliau. Kami menulis pilihan kami dengan bersungguh-sungguh dan saling merahasiakan pilihan itu dengan sangat ketat. Kucai senang sekali. Wajahnya berseri-seri. Ia merasa telah mendapatkan keadilan dan menganggap bahwa bebannya sebagai ketua kelas akan segera berakhir. Suasana menjadi tegang menunggu detik-detik penghitungan suara. Kami gugup mengantisipasi siapa yang akan menjadi ketua kelas baru. Sembilan gulungan kertas telah berada dalam genggaman Bu Mus. Beliau sendiri kelihatan gugup. Beliau membuka gulungan pertama. ?Borek!? teriak Bu Mus. Borek pucat dan Kucai melonjak girang. Terang-terangan ia menunjukkan bahwa ia sendiri yang telah memilih Borek, kawan sebangkunya yang ia anggap pasien rumahsakit jiwa yang buas. Bu Mus melanjutkan. ?Kucai!? Kali ini Borek yang melonjak dan Kucai terdiam. Kertas ketiga ?Kucai!?, Kucai tersenyum pahit. Kertas keempat ?Kucai!? Kertas kelima.?Kucai!? Kucai pucat pasi. Demikian seterusnya sampai kertas kesembilan. Kucai terpuruk. Ia jengkel sekali kepada Borek yang tubuhnya menggigil menahan tawa. Ia memandang Borek dengan tajam tapi matanya mengawasi Trapani. Karena Harun tak bisa menulis maka jumlah kertas hanya sembilan tapi Bu Mus tetap menghargai hak asasi politiknya. Ketika Bu Mus mengalihkan pandangan kepada Harun, Harun mengeluarkan senyum khas dengan gigi-gigi panjangnya dan berteriak pasti. ?Kucai ?!? Kucai terkulai lemas. Hari ini kami mendapat pelajaran penting tentang demokrasi, yaitu bahwa ternyata prinsip-prinsipnya tidak efektif untuk suksesi jabatan kering. Bu Mus menghampirinya dengan lembut sambil tersenyum jenaka. ?Memegang amanah sebagai pemimpin memang berat tapi jangan khawatir banyak orang yang akan mendoakan. Tidakkah Ananda sering mendengar di berbagai upacara petugas sering mengucap doa: Ya, Allah lindungilah para pemimpin kami? Jarang sekali kita mendengar doa: Ya Allah lindungilah anak-anak buah kami ?.? - - - o o o - - - Berikut ini adalah beberapa kutipan komentar tentang Laskar Pelangi : ?Saya larut dalam empati yang dalam sekali. Sekiranya novel ini difilmkan, akan dapat memban http://dunia.pelajar-islam.or.id/?p=696
Berikut petikan wawancara yang berlangsung belum lama ini di Jakarta : Sejumlah pembaca Laskar Pelangi mengaku novel ini menyegarkan sekaligus mengharukan. Ide apa yang melatarbelakangi penulisan novel ini? Buku Laskar Pelangi (LP) pada awalnya bukan untuk diterbitkan. Niat saya untuk menulis buku ini sudah ada sejak saya kelas 3 SD, ketika saya demikian terkesan pada jerih payah kedua guru SD saya Ibu Muslimah dan Bapak Harfan Effendi, serta 10 sahabat masa kecil saya, yang disebut Kelompok "Laskar Pelangi". Buku LP saya tulis sebagai ucapan terima kasih daan penghargaan kepada guru dan sahabat-sahabat saya itu. Seorang teman, tidak sengaja menemukan draf buku itu di kamar kos saya, dan diam-diam mengirimkannya pada penerbit. Sampai hari ini saya masih heran ternyata buku LP masih merupakan buku laris. Masa kecil anda benar-benar seperti di Laskar Pelangi? Masa kecil saya dan para tokoh di LP hidup di sebuah komunitas buruh tambang di Belitung. Kami tuh native di sana. Kami mengalami seperti apa yang saya ceritakan dalam Laskar Pelangi. Jadi, ada pendidikan dimana pendidikan hanya bisa diikuti oleh anak-anak para pegawai dalam pangkat tertentu. Kemudian ada fasilitas yang hanya bisa dimasuki orang-orang dengan kelas sosial tertentu. Saya rasa, sekarang kita bisa melihat hal tersebut sebagai sebuah pelanggaran HAM. Itu terjadi dalam masa kecil kami. Mengapa masa kecil yang penuh penderitaan itu begitu membekas dalam diri Anda? Masa kecil itu penuh dengan magical moments. Masa kecil kan membentuk kita pada hari ini. Apa yang kita lakukan hari ini, bagaimana persepsi kita terhadap hidup ini, semua terbentuk saat masa kecil. Dan saya merasa beruntung masa kecil saya dilalui di sekolah Muhammadiyah, sebuah sekolah miskin dan puritan, tapi saya rasa bagaimana saya melihat perspektif hidup saya sekarang, itu adalah bagaimana saya melalui masa kecil saya di sekolah itu. Bagaimana saya melihat persahabatan. It's magic! Saya selalu merasa beruntung, dan saya selalu merasa punya tempat untuk pulang. Bertemu dengan guru tercinta dan sahabat-sahabat saya, Laskar Pelangi. Berapa lama Anda menyelesaikan novel ini? Saya memang sejak dulu ingin menulis, tetapi sebelum menulis LP saya sama sekali tidak pernah menulis sastra. Bahkan cerpen pun belum pernah. Saya hanya menulis, berkontemplasi, mengingat untuk buku itu. Tiga minggu selesai. Memang banyak yang mempertanyakan hal tersebut, sampai dalam suatu forum milis dikatakan saya menulis dalam keadaan trance, di luar kemampuan saya. Apalagi mengingat novel itu sangat tebal 529 halaman. Dan saya tidak memiliki latar belakang sastra. Ini merupakan novel saya yang pertama. Namun kembali saya ingatkan LP adalah sebuah memoar. Oleh karena itu, setiap lembarnya sudah ada di kepala saya sejak lama. Soal latar belakang dan lokasi kejadian, Anda cukup detail dalam novel ini. Semua nyata? Atau ada juga imajinasi di dalamnya ? LP adalah sebuah memoar, oleh karena itu semua karakter dan kejadiaanya adalah nyata. Cara menulis saya memang cenderung detail, karena saya tertarik memberi gambaran yang filmis pada para pembaca. Tentu novel adalah sebuah karya sastra, dan sastra tidak dapat dipisahkan dengan imajinasi. Imajinasi dalam LP tidak dimanifestasikan dalam bentuk mereka-reka karakter dan kejadian, tetapi di dalam cara menceritakan Dalam bertutur Anda begitu detail. Apakah Anda melakukan survei data untuk penulisan novel ini? Tentu saja, tetapi saya terbantu karena LP adalah memoar, artinya saya sudah memiliki informasi yang mengendap di kepala saya. Riset yang paling intensif adalah saya harus mengkonfirmasikan lagi beberapa hal yang berkenaan dengan Biologi, Fisika, dan Kimia waktu mendeskripsikan karakter Lintang yang jenius. Juga ketika mendeskripsikan anatomi kandungan material tambang di Belitong. Ini karya sastra debutan Anda. Bagaimana penulis pemula seperti Anda dapat membuat novel yang begitu baik dan menuai pujian di mana-mana? Saya bukan pembaca sastra yang fanatik. Hanya sedikit buku sastra yang saya baca. Saya lebih banyak membaca buku ilmiah, teori ekonomi, pokoknya tentang ilmu pengetahuan. Namun ternyata buku sains memberi kontribusi yang besar dan membuat saya kuat dalam hal penulisan kontekstual. Bahkan menurut saya ilmuwan itu sangat sastrawi. Saya juga percaya orang Melayu terlahir sebagai penyair, story telling yang ulung. Ada peribahasa kalau kau pinjamkan uang pada orang melayu, akan putus perkara. Tapi kalau kau pinjamkan dia kata, maka akan berpanjang cerita. Dari memoar, Anda kemudian menulis hingga menjadi tetralogi. Bagaimana itu bisa terjadi? Setelah melihat reaksi pembaca, saya mulai berpikir ternyata menulis buku bisa memberi pengaruh secara luar biasa. Terpikir untuk membuat tetralogi, itu bukan karena dorongan pasar. Saya hanya ingin memberi semangat pada penulis baru untuk jangan takut menghasilkan karya. Sebab buku punya nasib sendiri. Saya tahu menulis itu tidak mudah. Maka saya tidak punya pandangan tentang hal mendasar dalam teknis menulis. Pandangan saya adalah mengenai apresiasi. Dalam hal ini saya rasa karya dari seorang penulis bukan hanya persoalan bagaimana masyarakat akan menghargai tulisannya, tapi bagaimana ia sebagai penulis akan menghargai dirinya sendiri. Artinya, jika ia menghargai dirinya sendiri, hendaknya ia menulis sesuatu yang memiliki integritas. Tidak melulu patuh pada tuntutan pasar. Berarti ada pesan lain ketika anda menulis LP, tak hanya sekadar memoar? LP adalah buku tentang orang Indonesia kebanyakan. Di dalamnya ada kisah cinta, hubungan dengan teman, keinginan untuk maju, rasa percaya diri. permbaca meliha dirinya sendiri di buku itu. Buku LP membua tana kuat menertawakan kemiskinan, memparodikan tragedy sehingga anda bertenaga kembali. Agar orang jangan mudah berputus asa. Belajarlah dengan betul, itu sebenarnya pesan utama saya. Klasik sebenarnya, tapi dengan bercontoh dari Laskar Pelangi, kesulitan apapun terutama dalam masalah pendidikan, bisa diatasi. Buktinya, anggota Laskar Pelangi bisa survive. Pokoknya don't give up. Kalaupun harus bekerja, atau menjual, ya pokoknya apa saja, lakukanlah untuk mendapatkan pendidikan. Kemiskinan bukan alasan untuk berhenti belajar. Pendidikan itu penting untuk perubahan. Apa obsesi Anda setelah menjadi penulis dengan karya best seller? Saya pegawai BUMN, saya ingin mempromosikan ke kalangan birokrat agar banyak membaca buku sastra untuk mengaktifkan otak kanan mereka. Sebab dewasa ini kebijakan harus bersifat kreatif , sebab jika terlau banyak menjanjikan masyarakat akan semakin skeptis. Saya masuk ke dalam birokrat karena saya melihat itu satu-satunya cara untuk berbuat dalam memecahkan berbagai masalah yang selama ini kita lihat di dalamnya. Di mata saya apabila bangsa ini ingin berubah, orang yang ada di dalam posisi strategis harus berkorban demi sesuatu yang lebih baik ke depan. Itu yang coba saya lakukan. Saya ingin melawan jargon anda jujur anda hancur. Sebaliknya say aingin buktikan anda jujur anda prevail. Sebab cepat atau lambat kemenangan akan memihak kebenaran. Itu yang guru saya ajarkan. Persoalannya hal itu tidak mudah, sehingga saya sering merasa kesepian di tengah keramaian. Pewawancara: Stevy Widia Sumber: Suara Pembaruan, Minggu, 11 November 2007 http://cabiklunik.blogspot.com/2007/11/andrea-hirata-sastrawan-dari-kampung.html
Republika, Jumat, 04 Januari 2008 Andrea Hirata tetap berkukuh bahwa dia bukanlah novelis. Bukan pula sastrawan. Bukan juga pembaca sastra yang baik. Apa yang ia tulis ia akui sebagai sebuah buku tentang pendidikan. Kesahajaan itulah yang membuat novelnya begitu otentik dan menyegarkan. Ia seakan makhluk baru dalam dunia sastra Indonesia. Andrea memang orang yang muncul dari dunia antah berantah dalam jagad sastra Indonesia. Justru karena itu bahasa dan ungkapannya begitu asli. Ia tak mewarisi dan tak terpengaruh siapa-siapa. Padahal novelnya, Laskar Pelangi, ia tulis hanya dalam tiga pekan. Bukankah ia seorang penulis yang luar biasa? Sebagai seorang karyawan PT Telkom tentu ia sangat sibuk. Namun, kecintaan dan dorongannya untuk memberikan hadiah pada ibu gurunya yang sedang terbaring sakit membuatnya teramuk menulis. Apa yang ia tulis adalah kisah nyata dan pengalaman pribadinya beserta teman-temannya yang tergabung dalam persahabatan Laskar Pelangi saat mereka di SD. Apa yang ia tulis adalah wajah nyata Indonesia tentang kemiskinan dan berbagai akibatnya, apalagi di wilayah terpencil di Belitung. Namun, berbagai keterbatasan itu bukanlah pintu mati jika di sana ada seorang guru yang menghayati dan mencintai profesinya. Tunas-tunas muda itu begitu keranjingan untuk belajar dan menyerap ilmu. Seperti kata Andrea, Laskar Pelangi memang bukan [sekadar] novel, dia adalah mata air di padang makna. sumber : Republika, Jumat, 04 Januari 2008
Semua berawal dari Laskar Pelangi , novel berdasar memoar masa kecil yang ditulis lelaki berambut ikal penyandang nama panjang Andrea Hirata Seman Said Harun. Sejak itu, lelaki ini jadi ketagihan menulis (fiksi). Ia melewatkan malam-malam insomnianya dengan menulis. Saat menulis itu, ia seperti orang “kesurupan”. Kata demi kata mengalir deras dari ujung-ujung jarinya, menjelma kalimat-kalimat dan bermuara pada sebuah kisah panjang dengan tokoh utama Ikal. Tiga judul buku–dari empat yang direncanakan–telah lahir dari tangannya. Dua di antaranya, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi , sudah dilepas ke pasar dan menuai sukses lumayan. Berbagai pujian dan kritikan dari sidang pembaca diterimanya dengan senang hati. “Sebetulnya, Laskar Pelangi adalah buku keduaku. Buku pertama yang kutulis adalah buku ilmiah berjudul The Science of Business . Buku itu kutulis tahun 2003”, jelas Andrea mengenai perjalanan riwayat kepenulisannya. “Buku itu semacam pembayar kewajiban moralku kepada Uni Eropa, lembaga yang memberiku beasiswa kuliah di Sorbonne (Prancis) dan Sheffield (Inggris),” tambahnya lagi. Ya, Andrea memang sangat menggemari sains. Lantaran itu, ia sangat berharap satu hari nanti bisa kembali menulis sebuah buku sains, bukan cuma sastra. “Segala hal yang berhubungan dengan sains dan buku selalu menarik perhatianku,” katanya. “Apa jadinya jika Newton tidak menulis Principia ? Atau Adam Smith tidak pernah menelurkan The Nature and Causes of The Wealth of Nations ?,” sambungnya lagi. Tetapi, kemudian bukanlah salahnya jika ia malah dikenal lebih dulu sebagai penulis fiksi lewat debutnya Laskar Pelangi . Mulanya, Andrea tidak pernah meniatkan naskahnya untuk dikomersilkan lewat industri buku. Ia menulis memoar itu untuk dipersembahkan sebagai kado ulang tahun bagi gurunya tercinta, Ibu Muslimah. (Dalam Laskar Pelangi , ibu guru ini adalah seorang tokoh yang sangat inspiratif, seorang guru miskin di sebuah sekolah dasar miskin di Belitong yang mendidik murid-muridnya dengan penuh kecintaan. Kabarnya, Ibu Muslimah tengah diusulkan untuk mendapatkan Ma'arif Award). Entah bagaimana ceritanya, naskah itu lalu “dicuri” oleh seorang sahabatnya dan diserahkan kepada penerbit. Penerbit yang beruntung ini, Bentang, langsung jatuh cinta dan lantas menerbitkannya. Menyusul buku pertamanya, Andrea lantas menulis sekuelnya, Sang Pemimpi. Masih berkisah seputar sekolahan, buku keduanya ini pun terbilang sukses. Lagi-lagi ia mendapatkan setumpuk pujian sekaligus kritikan yang disikapinya dengan bijaksana. “Aku tidak besar kepala karena pujian, dan ingin belajar dari pujian,” ujarnya. “Dan aku sangat terbuka terhadap berbagai kritik. Sayangnya, dari banyak kritik yang kuterima, belum ada yang benar-benar menyentuh sebstansi. Kecuali dari Prof. Sapardi Djoko Damono dalam sebuah diskusi di Bandung.” Menurut lajang kelahiran 24 Oktober (tahun kelahirannya dirahasiakan) ini, kritik-kritik tersebut lebih banyak berbicara di permukaan. Meski demikian, ia sangat berterima kasih untuk segala masukan itu dan selalu menyambut gembira pihak yang mengundangnya untuk diskusi. Terakhir, ia diundang oleh Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang, dan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Depok (Bogor). Total selama karier kepenulisannya, ia telah menerima undangan diskusi sebanyak 43 kali. Apa mau dikata, Andrea Hirata akhirnya dengan sadar menjerumuskan diri ke dalam penulisan buku fiksi. Sejatinya, Laskar Pelangi merupakan buku pertama dari sebuah karya tetralogi. Setelah Sang Pemimpi , berikutnya berturut-turut akan terbit dua judul lagi, yakni: Edensor dan Maryamah Karpov yang dinanti-nanti para pembaca setianya. Ekor kesuksesan Laskar Pelangi ditandai pula oleh diterbitkannya buku tersebut dalam edisi bahasa Melayu di Malaysia. Konon menjadi best seller di negeri jiran itu. Berkah lainnya adalah sudah ada pula tawaran untuk mengangkat kisah Ikal dkk ini ke layar lebar. Gosipnya, sutradara bertangan dingin, Riri Reza, yang akan menggarapnya. Kita tunggu saja, ya. Kiranya Laskar Pelangi menjadi pintu pembuka bagi pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini untuk masuk lebih jauh lagi ke “jalan sunyi” sastra. Laskar Pelangi pula yang telah membuatnya menjadi semacam selebritis di jagad sastra, meskipun ditampik mati-matian oleh yang bersangkutan. “Tidak ada pengaruh apapun (ketenaran itu- red ), kecuali makin sibuk dan kesulitan mengatur jadual kerja kantor dengan kegiata buku”, tandasnya buru-buru. Namun Andrea harus mengakui, bahwa lantaran Laskar Pelangi cita-citanya membuka perpustakaan di kampung halamannya terwujud sudah. Perpustakaan itu menjadi tempat orang belajar ilmu (pengetahuan) dan agama Islam. Perpustakaan ini membuka diri bagi para relawan yang ingin bergabung. Terlahir sebagai anak keempat dari pasangan N.A. Masturah (ibu) dan Seman Said Harun (ayah), Andrea Hirata menghabiskan masa kecilnya di Belitong. Setamat SMA, ia merantau ke Jawa, melanjutkan studi di FE-UI. Seusai meraih gelar sarjana ekonomi seperti telah ditulis di atas, ia berhasil mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk mengambil gelar master di Universite de Paris Sorbonne, Perancis serta Sheffield Hallam University, di Inggris. Ketika ditanya soal rencana menikah, sambil tertawa ia menyahut santai, “Menikah? Ha... ha... ha... sampai saat ini terpikirkan pun belum.” Begitulah. Rupanya pernikahan masih jadi sesuatu yang belum jelas baginya. Namun, yang jelas, para penggemarnya, akan segera dapat menikmati Edensor , buku ketiga dari rangkaian tetralogi Laskar Pelangi . Masihkah bercerita tentang sekolahan? “Ya. Edensor memilik garis merah yang tebal soal pendidikan. Tapi ada juga petualangannya. Tokoh-tokohnya masih tokoh sama dengan buku sebelumnya. Hanya saja sekarang mereka makin dewasa . Edensor adalah buku yang berusaha bercerita dengan jujur ihwal orang Indonesia ketika terdampar di negeri Barat,” Andrea memberi sedikit 'bocoran' karya terbarunya. Kedengarannya menarik ya? Kita sama-sama lihat saja nanti. sumber dari : http://perca.blogspot.com
Hernowo: “Oke, saya ingin menggunakan apa yang dialami Andrea sekarang ini dengan kenyataan bahwa banyak orang pesimis dengan profesi penulis atau dia menekuni dunia itu. Di sekolah-sekolah ini senantiasaaa…kalau orang mau jadi penulis, dibilang: “Kamu hidupnya bakal nggak bagus, miskin dsb…Bagaimana ini? Anda mau berpesan apa kepada mereka..Dan saya lihat banyak anak-anak yang sebenarnya punya keinginan kesana dan bermimpi ingin jadi Rowling, ingin jadi Anda. Ini..apa yang ingin Anda sampaikan tentang keinginan jadi penulis, karena memang anda sudah mengalami sesuatu yang luar biasa…” Andrea: “Jadi saya rasa, apabila kita menulis untuk imbalan materi, saya rasa pendapat itu tidak juga keliru ya... Pesimisme itu tidak juga keliru. Bayangkan kalau rata-rata penulis paling top kalau dia dapat royalty 15% -paling top- dengan harga buku Rp 30.000, dan berdasarkan cerita dari orang-orang yang bekerja di industri buku, mencari buku yang laku di atas 3.000 buku per tahun itu susah, saya rasa pesimisme itu beralasan. Tapi, itu kalau motifnya untuk royalty… Alhamdulillah kalau saya cukup signifikan karena penjualannya memang cukup signifikan. Ini matematika sederhana saja. Namun…ada “much more” dari sekedar royalti ketika kita menulis. Bagaimana buku akan mempengaruhi orang, lihatlah itu bagaimana kuatnya pengaruh buku kepada pembaca. Kemudian lebih daripada itu, buku itu dari proses menulis, sebenarnya “fullfilling our self”, mengisi diri sendiri. Menulis buku itu mengisi diri sendiri, karena buku itu refleksi dari banyak hal. Makanya saya percaya dengan apa yang disebut Psikolinguistik, kalau orang berasalan bahwa orang terlihat dalam tulisannya, karakter-karakter orang, dan bagaimana dia sendiri bisa berekspresi ya dalam tulisannya. Jadi, menulis itu banyak hal positif (yang bisa diambil) dari sekedar iming-iming royalty.” Hernowo: “Betul, betul…” Andrea: “Apabila dia memiliki minat kepada riset, disitulah tempatnya. Apabila dia memiliki minat kepada psikologi, disitu bisa menjadi tempatnya. Makanya, berdasarkan pandangan itu, saya percaya bahwa: TULISAN YANG BAIK ADALAH TULISAN YANG MENGANDUNG POSSIBILITY…” “Karena, dalam sebuah tulisan yang baik, satu paragraf misalnya, itu kalau saya lihat dari penulis-penulis yang sudah “jadi” ya –seperti Pak Pram kalau di Indonesia, atau seperti Antonius Carmetta*, Truman Capotte*, ya pak Hernowo antara lain. Pak Hernowo sendiri, saya sangat kagum dengan kreatifitas tema. Saya kira, orang nomor satu dalam kreatifitas tema adalah Pak Hernowo, bukan karena sedang diwawancara loh…” Hernowo: “Iya, hahaha…” Andrea: “Itu memerlukan skill tersendiri, dan memang luar biasa untuk pakar kreatifitas tema. Itu…apa satu serial Bapak yang sukses besar?” Hernowo: “Ini menjadi guru”? Andrea: Bukan…Satu serial yang kemarin itu loh…” Hernowo: “Harry Potter…”? Andrea: “Serial sebelumnya…” Hernowo: “Muslim dan fakir!” Andrea: “Bukan, bukaann…” Hernowo: “Andaikan buku sepotong pizza!” Andrea: “Bukan, ada lagi…” Hernowo: “Mengikat Makna!” Andrea: “Ya, mengikat makna! Tema yang dirilis…Jadi, tema banyak aspeknya, karena setelah saya belajar di pengalaman pendek saya terjun ke dunia sastra: APABILA KITA PERCAYA KEPADA PARADIGMA LAMA UNTUK MENILAI SEBUAH SASTRA YANG BAIK, KITA AKAN TERSESAT SENDIRI.” Saya membaca itu, kalau paradigma lama percaya dengan penokohan, percaya dengan plot, percaya dengan karakterisasi, percaya dengan metafora, percaya dengan komposisi, dialog narasi dan sebagainya itu –sekarang kita baca Aland Naightpen*, paradigma itu? Bubar semua..” Hernowo: “Menarik juga, tapi apa yang saya pahami dari apa yang diciptakan Andrea ini, berangkat dari diri gitu lho. Ini, saya juga merasakan betul. Mengikat Makna itu kan, “Lo, ini ada yang bisa saya ungkapkan ini…” “Ini yang saya setuju juga dengan: kalau menulis jangan Cuma berangkat dari royalty, karena dalam diri kita itu kaya betul…Sebuah sumber yang luar biasa! Saya kira Anda bisa bicara banyak tentang Laskar Pelangi. Sebenarnya saya kira itu adalah kekayaan anda yang luar biasa itu…” Andrea: “Jadi, kalau saya kembalikan kepada paradigma lama tadi, dengan komposisi, dialog, narasi..Kan ada sebuah karya itu kan yang dapat penghargaan “Gomkort*”, penghargaan sastra tertinggi di Perancis itu…Margareth Dulla de Lamperd*: nyaris tidak ada dialognya!” Hernowo: “Oh gitu!?” Andrea: “Dan itu buku yang sangat hebat! Akhirnya saya percaya: (suara tidak jelas) “TIDAK ADA SATU JAWABAN YANG PASTI UNTUK SEBUAH BUKU YANG BAGUS”. Namun, ada satu pola umum dari sebuah buku yang bagus –menurut pendapat saya-.” Hernowo: “Apa itu?” Andrea: “POSSIBILITY tadi…” Hernowo: “Jadi, memberikan kemungkinan, peluang yang luar biasa!” Andrea: “Dari satu bab itu, pembaca jadi dapat banyak hal. Ini paragraf mengandung kemungkinan science. Ini paragraf mengandung kemungkinan estetika. Ini paragraf mengandung kemungkinan semiotika. ini paragraf mengandung kemungkinan intelektualitas. Ini paragraf menantang keyakinan saya. Ini paragraf menghina saya. Ini paragraf memojokkan saya. Ini paragraf menyadarkan saya. Jadi: Possibility!” Hernowo: “Ini persis! Kemarin waktu saya dialog dengan pengunjung, kemarin ada Haidar* waktu saya meluncurkan buku di MP Book Point itu, dia mengatakan kalau buku ini bukan benda mati ini, ini makhluk hidup! Saya kira anda setuju ya dengan statemen itu..” Andrea: “Itulah maksud saya! Jadi, paragraf itu hidup…” Hernowo: “Iya, jadi bisa buat orang merenungkan dirinya, bisa membuka peluang yang..Saya kira begitu!” Andrea: “Dalam bahasa pak Haidar: HIDUP, dalam bahasa saya: POSSIBILITY, kemungkinan!” Hernowo: “Ya, ya…” Andrea: “Karena dia dinamis!” Hernowo: “Betul, betul..” Andrea: “Makanya kalau kita membaca satu paragraph Antonius Carmetta*, rasanya satu bab itu bisa menjadi buku.” Hernowo: “Ok, ya, ya…” Andrea: “Karena possibility-nya tadi! Dan si penulis itu demikian hebatnya, demikian cerdasnya. Dia mengetuk-ngetukkan simpul-simpul dalam kepala pembaca itu…Nah, itulah sebetulnya tantangan kita..” Hernowo: “Saya sering…Saya kan punya istilah namanya: Buku Bergizi…” Andrea: “Nah!” Hernowo: “Itu, buku yang bagus memang yang menggerakkan pikiran…Bukan hanya dalam arti kita hanya menikmati apa yang disajikan. Tapi kita diberi peluang untuk mencari sesuatu yang sangat kaya…” Ngomong-ngomong, sekarang ada semacam rumus –saya ndak tahu bung Andrea setuju ndak…UNTUK JADI PENULIS YANG BAIK MEMANG AWALNYA MEMBACA…” Andrea: “Saya kira begini…kenyatannya: saya ini bukan pembaca sastra, pak…” Hernowo: “Ok, ya, ya…” Andrea: “Sampai saat ini saya baru membaca…” Hernowo: “Tapi saya dengar kan di bab-bab terakhir Laskar Pelangi waktu anda tukang pos itu, Anda kan membaca. Maksud saya bukan hanya sastra. Dan saya kira anda benar-benar pembaca yang luar biasa. Bukan hanya sastra ya, maksud saya memang buku-buku yang mampu memperkaya diri Anda..” Andrea: “Jadi: SAYA ADALAH SEORANG PEMBACA...” Hernowo: “Ok, ya, ya…” Andrea: “Tapi, baru sedikit membaca sastra. Sekarang, sebagai gambaran, saya waktu itu dinas di Telkom Surabaya, saya dipindah ke Telkom Medan, berkemaslah saya. Mengepak gitu…Buku demi buku demi buku, setelah saya timbang: BUKU SAYA BERATNYA 1,5 TON…” Hernowo: “dari kontrakan atau kosan anda saja itu ya…” Andrea : “Buku-buku science, temuan-temuan terbaru, Kimia, Fisika, Biologi, IT, Matematika, Statistika, hasil-hasil riset, jurnal-jurnal luar negeri –tentang ekonomi, makro, mikro…Memang hanya sedikit novel…” Hernowo: “Kalau anda sebut tadi Antonio Carmetta* itu?” Andrea: “Nah, itu sebenarnya sesudah baca Laskar Pelangi. Ah, sebelum, sebelum menulis Laskar Pelangi…Sebelum nulis Laskar Pelangi saya Cuma sempat membaca satu novel seumur hidup saya..” Hernowo: “Apa itu?” Andrea: ………(Maaf, tidak jelas) Hernowo: “Oh…” Andrea: “Tapi, saya selalu membaca buku-buku science, makanya di Laskar Pelangi atau di tiga buku itu, saya cukup kontekstual ya ketika saya menceritakan fenomena Fisika, ketika saya menceritakan sedikit sosiologi, psikologi, saya lumayan dapet feelnya. Dan kontekstual…ya dapet juga. Walaupun tulisan itu menjadi tidak terlalu sastrawi. Dan saya pikir dalam keseimbangan dua hal itulah pembaca menikmati karya-karya itu.” Hernowo: “Memang yang tidak ingin saya katakan itu kita Cuma membaca satu bidang tertentu saja, atau misalnya sastra saja. Bukan, bukan…Justru yang saya bayangkan itu kita memperlebar pikiran kita.” Andrea: “Saya sarankan, saran saya buat para penulis: JANGAN HANYA MEMBACA SASTRA.” Hernowo: “Hahaha!” Andrea: “Jadi, itu ibaratnya s |
|