Acara memang mulai telat, tapi antisipasi dari manajemen Mas Ikal cukup baik karena sekitar jam 13.00 acara segera diisi dengan pemutaran wawancara Mas Ikal oleh salah satu stasiun TV berlangganan. Satu hal yang bisa kuambil sebagai pelajaran dari wawancara itu, apapun keputusan yang kita ambil dalam hidup akhirnya harus mengarah pada memberikan manfaat bagi banyak orang. Entah sebagai penulis novel atau seorang pakar ekonomi komunikasi, bagi seorang Andrea yang disatu sisi adalah penulis tetapi disisi lain merupakan pegawai Telkom bukan merupakan suatu pilihan yang berarti. Baginya apapun yang ia pilih kemudian, yang penting adalah seberapa besar kontribusi yang bisa ia berikan bagi banyak orang.
Saat ini Laskar Pelangi telah menjadi salah satu buku paling berpengaruh dalam sastra Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari angka penjualannya yang segera akan menembus angka setengah juta copy, hanya untuk dalam negeri saja. Itu belum dihitung dengan angka penjualan buku bajakan yang harganya hanya sekitar setengah dari aslinya dan jelas tidak terkontrol jumlahnya. Belum lagi dengan rencana pemerintah Norwegia yang akan menerjemahkannya untuk konsumsi publik negara itu. Dari sini aku bisa melihat kekuatan dari sebuah tulisan dalam mempengaruhi mindset orang dan itulah yang kupikir harus bisa kulakukan juga.
Wajar jika Laskar Pelangi mampu menginspirasi banyak orang, karena tulisan ini bukanlah sebuah fiksi yang direka-reka. Laskar pelangi fenomenal karena ia ditulis berdasarkan sebuah pengalaman hidup yang nyata dialami si penulisnya. Ia bahkan menjadi populer tanpa perlu memiliki gaya bahasa yang populer dibandingkan karya-karya metropop zaman ini. Gaya bahasa yang berbeda justru menjadi daya tarik tersendiri dari buku ini. Jauh berbeda dengan novel semacam Ayat-Ayat Cinta dan kawan-kawan yang merupakan karangan fiksi, chemistry dari suatu pengalaman nyata yang menakjubkan jelas menjadi pengalaman yang amat jauh mengena dan menginspirasi pembacanya.
Menjadi Guru yang Berjiwa Guru
Bicara soal Novel ini, kurang afdhal jika tidak bicara tentang pendidikan. Karena inti dari perjalanan panjang Ikal yang nyaris tidak sekolah hingga kemudian bisa lulus cumlaude S2 di Sorbonne adalah bagaimana sistem sistem sosio-kultural dan pendidikan negeri ini telah membuat seorang Lintang tidak dapat memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensinya setinggi-tingginya. Inti dari cerita ini adalah kekecewaan seorang Andrea terhadap pupusnya nasib sahabat sekaligus saingannya dikelas, padahal ia yang paling cerdas dan amat mungkin bisa memberi sesuatu yang besar bagi negeri ini jika saja ia dapat melanjutkan sekolahnya. Bicara tentang pendidikan di mata seorang Andrea adalah bicara tentang betapa mekanistiknya pendidikan negeri ini sehingga siswa-siswa kita belajar sekeras-kerasnya bukan lantaran cinta dengan ilmu pengetahuan, tapi keinginan untuk menembus level sosial yang lebih tinggi. Berbicara tentang pendidikan Laskar Pelangi maka kita berbicara tentang pendidikan yang mencerahkan visi peserta didik dari seorang guru dusun bernama bu Muslimah.
Memang banyak hal yang tidak akan habis-habisnya terbahas jika kita membandingkan tokoh-tokoh dibalik memoar itu dengan kondisi pendidikan negeri ini. Metode pendidikan kita yang kian mekanistik secara sistemik telah mencetak generasi robot yang pintar menyelesaikan soal-soal UAN dan SPMB tetapi gagap untuk menyelesaikan persoalan hidup, dan mungkin aku salah satunya. Kita dididik untuk menganggap bahwa bisa berhitung jauh lebih mulia dibandingkan bisa bernyanyi. Kita dididik untuk menganggap bahwa seorang pegawai MNC jauh lebih mulia dibanding seorang seniman jalanan atau desainer grafis. Kita dididik untuk senantiasa mengasah otak kiri kita hingga cerdas dan licik dalam berpikir tetapi disisi lain menumpulkan banyak potensi otak kanan kita yang seharusnya sadar bahwa setiap diri kita begitu unik.
Kembali membahas novel ini, kita bicara tentang bagaimana sosok sentral dari pendidikan laskar pelangi yaitu bu Muslimah berusaha mendobrak paradigma-paradigma pendidikan tipikal kita dengan suatu dogma baru. Satu hal yang amat unik dari sosok ini adalah kemampuannya untuk membuat anak-anak dusun (yang digambarkan Andrea didiskusi kemarin adalah desa yang paling pelosok di pesisir pantai belitung timur yang hampir-hampir tidak tercantum dalam peta Indonesia) menjadi bocah-bocah maniak ilmu pengetahuan. Ia mampu menjadikan setiap orang istimewa dengan kekhasannya masing-masing, entah itu dengan kebandelannya, kemampuan matematikanya maupun kemampuan seninya. Beliau dapat membuat para bocah ini begitu merindukan sekolah sehingga hari minggu menjadi mimpi buruk yang harus cepat-cepat diakhiri dan hari senin menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu. Ia pula yang mampu membuat bocah-bocah ini begitu penasaran hingga saat diberikan sebanyak 20 soal PR mereka protes. Bukan lantaran terlalu banyak, tetapi karena mereka berharap lebih dan bahkan jika saja waktu sekolah tidak terbatas maka akan mereka ingin agar PR itu dapat mereka selesaikan saat itu juga.
Di balik semua itu, apa yang didapat oleh bu Muslimah sebagai kompensasi dari semua itu? Ia sama sekali bukan sosok pengajar bimbel privat dengan gaji berjuta-juta yang berhasil menjebol pintu kokoh sekolah favorit bagi anak didiknya. Sembilan tahun mengajar tanpa gaji, dengan ijazah tak lebih dari sekolah keputrian nyatanya tidak menghalanginya untuk dapat menjadi guru yang begitu spesial bagi murid-muridnya. Lokasi sekolah yang jauh tidak menghalangi semangat mereka untuk kembali datang dan belajar. Padahal keluarga-keluarga mereka nyaris tidak memiliki hasrat untuk menyekolahkan mereka. Bahkan apa yang mereka sebut ruang kelas pun tak lebih seperti kandang ternak yang reot, dengan atap yang bocor dan bahkan begitu menakutkan bagi para laskar pelangi karena dapat runtuh kapanpun. Tetapi ternyata berbagai kekurangan dan hambatan tak lantas membuat sang guru gagal dan bergeming. Ia tetap mampu membesarkan hati para muridnya sehingga seorang Andrea mampu menjadi seperti sekarang. Itulah yang membuat sosok ini menjadi begitu istimewa.
Dikesempatan talkshow kemarin, Andrea sempat bilang bahwa rahasia dibalik itu semua adalah jiwa guru yang ada dalam diri seorang bu Muslimah. Jiwa guru yang dimaksud adalah motivasi tanpa pamrih yang telah berhasil melampaui sekat-sekat batasan ekonomi, fasilitas, sosio-kultur dan bahkan kungkungan paradigma yang selama ini membelenggu masa depan para bocah laskar pelangi itu. Hal yang paling utama adalah, beliau mampu menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan, menjadikan mereka sosok-sosok yang cinta ilmu, sekaligus berhasil menancapkan mimpi-mimpi besar dibenak bocah-bocah kecil itu agar mereka mampu berbuat sesuatu dikemudian hari. Itulah sebuah senjata yang amat berharga yang mampu mengalahkan uang berjuta-juta atau fasilitas bergunung-gunung yang mampu diberikan sebuah sekolah paling favorit sekalipun. Sebuah perhiasan bagi kaum guru yang tidak mungkin ditukarkan dengan anggaran pendidikan sebesar apapun, kurikulum sedahsyat apapun, atau bahkan guru-guru setingkat profesor sekalipun.
interpretasiku tentang Komunitas Intelektual Profetik
Kata orang, inti dari proses pendidikan adalah memanusiakan manusia. Maksudnya adalah bagaimana para peserta didik dapat menyadari dirinya seutuhnya dan mengetahui segala potensi yang ia miliki untuk kemudian dapat memanfaatkannya untuk menghadapi persoalan-persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan. Hal ini telah terlalu lama hilang dari pendidikan negeri ini. Bahkan mungkin lebih tepatnya tidak pernah ada sejak pertama kali negeri ini berbicara tentang sistem pendidikan. Kita, produk dari sistem ini telah tercetak jadi orang-orang oportunis yang melihat pendidikan sebagai tangga-tangga sosial untuk memperoleh status masyarakat setinggi mungkin dengan kemudian terlupa dengan esensi dari proses pendidikan itu sendiri.
Ada segelintir kalangan yang kemudian dapat terselamatkan dari jeratan sistem tersebut. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang tercerahkan karena memiliki kepekaan kondisi sosial masyarakatnya atau mungkin tertempa secara langsung oleh realita tersebut, mungkin salah satunya adalah Andrea Hirata sendiri. Sebagian yang lain tersadarkan dengan adanya pendidikan-pendidikan non-struktural yang diantaranya terbentuk dalam suatu komunitas yang memiliki idealisme dan sistem nilai eksklusif. Proses transfer nilai dalam komunitas semacam ini memberikan nilai lebih kepada orang-orang yang terdidik dalam sistem konvensional tersebut. Sistem yang ada dalam komunitas semacam ini terbukti efektif dalam membentuk karakter individu didalamnya. Tetapi kemudian muncul pertanyaan, mampukah manusia-manusia ini memberikan pencerahan bagi orang-orang diluar komunitas ini atau bahkan orang-orang yang ada dekat disekitarnya? Pertanyaan ini akan bermuara kepada visi yang dibawa oleh komunitas tadi beserta bentuk interpretasi dari tiap individu didalamnya yang mungkin akan amat berbeda satu sama lain.
Akhirnya apa yang kemudian terjadi pada nasib kesepuluh orang Laskar Pelangi telah membuktikan bahwa butuh lebih dari sosok individu bu Muslimah untuk melawan arus dari sistem masyarakat yang sudah terlanjur lapuk dan miskin mimpi besar. Effort besar dari satu orang guru itu nyatanya tidak mampu membuat keseluruhan murid-muridnya untuk beranjak dari kungkungan masa depan yang suram. Akhirnya tidak semua orang dan potensi yang ada benar-benar tergali hanya dengan kekuatan satu orang saja. Dan ternyata hanya sedikit orang saja dari didikan bu Muslimah yang mampu untuk survive dan memberikan kontribusi besar.
Ini dapat kita ambil sebagai pelajaran penting bahwa kesendirian dalam idealisme bukanlah sebuah solusi. Untuk mewujudkan idealisme atau mimpi tadi visi itu butuh untuk dibagi dan ditularkan pada orang lain. Kekuatan yang dimiliki oleh sebuah komunitas yang memiliki mimpi besar tersebut kemudian baru akan muncul jika masing-masing telah memiliki keterikatan emosional dan saling berbagi gagasan tentang bagaimana mewujudkannya. Dari komunitas semacam itulah kita dapat berharap suatu perubahan besar dapat terwujud. (Bersambung)
http://ardee.cmsku.org/2008/02/pendidikan-laskar-pelangi-1/