Ass… haloooooooo selamat soreee, blognya keren, isinya juga hmmmm…. Menarik, o’yah.. sudah baca laskar pelangi belum??? Kalo sudah, plis yah… bagi-bagi. Kira-kira apa hikmahnya, terus… nilai-nilai pendidikan islam dalam laskar pelangi tuh apa??? Di blz yang panjang yaaaa.. coz it’s very different blz ke mp Q yah (penting banget buat skripsiku hehehe. Terima kasih ya fren sebelumnya.

Blog Entryoase dari laskar pelangi part 2May 5, '08 12:47 AM
for everyone

Buku ini merupakan kisah masa kecil pengarangnya, Andrea Hirata Seman.  isahnya diawali dari sebuah Sekolah Muhammadiyah, salah satu sekolah kampung di pulau Belitung yang gedungnya –menurut sang pengarang- lebih mirip gudang kopra. Dengan segala ketAerbatasan fasilitasnya sekolah yang terdiri dari SD dan SMP ini memulai tahun ajaran barunya bersama sepuluh orang siswa baru yang salah satu diantaranya menderita keterbelakagnan mental. Ya sepuluh siswa, tepat di ambang batas minimal yang ditetapkan kantor diknas setempat.Laskar pelangi adalah nama yang diberikan ibunda guru, Ibu Muslimatun, disebabkan kesukaan kesepuluh muridnya (yang nantinya di tengah cerita akan bertambah karena kehadiran gadis tomboi bernama Flo) nongkrong di atas pohon untuk melihat pelangi.

Selanjutnya buku ini bercerita tentang laskar pelangi, tentang gairah mereka dalam menuntut ilmu, tentang kecemerlangan intelegensia Lintang, tentang kecerdasan seni Mahar, tentang perseteruan zahara dan akiong, tentang cerita harun dan kucingnya, tentang cinta pertama ikal, tentang hari-hari sepanjang sembilan tahun masa SD dan SMP yang mereka lalui di sekolah kampung itu.Sungguh ada keterhenyakkan yang mengharukan ketika menyusuri gelombang semangat mereka sepanjang halaman buku ini. Seperti kisah Lintang yang tidak pernah membolos meski harus mengayuh sepedanya menempuh jarak 80 kilometer pulang-pergi, hingga alas kakinya yang terbuat dari ban bekas mengeluarkan bau terbakar.

Belum lagi resiko yang harus dialami Lintang jika bertemu buaya. Atau kisah Ibu Muslimatun, guru mereka yang penuh kasih dan begitu berdedikasi mendidik mereka dengan gaji hanya 15 Kilogram beras per bulan. Ada juga kisah pembangkangan Flo, gadis kaya anggota kesebelas Laskar Pelangi yang hanya mau sekolah di sekolah kampung itu sebagai bentuk protes terhadap ayahnya sekaligus karena ketertarikannya terhadap Mahar yang pernah menyelamatkannya.Layaknya oase di tengah gurun pasir, buku ini seolah membawa semangat baru di tengah carut-marut dunia pendidikan di tanah air. Kepiawaian pengarang serta kejenakaannya dalam menceritakan detail keindahan Belitung, penokohan maupun keseluruhan alur cerita dalam buku ini membuat kita tidak sanggup meletakkan buku ini sebelum tuntas membacanya.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa cita-cita, hidup tanpa keinginan menjadi sesuatu. Mungkin dari sini diletakkan defenisi makhluk sosial pada manusia, yang membutuhkan orang lain sekedar untuk menegaskan eksistensi diri. Tapi terkadang penegasan itu berujung pada penyakit krisis aktualisasi diri atau yang lebih keren disebut narsis. Kita memang butuh ruang untuk meng-aktual-kan segala potensi diri, tetapi kitapun harus pandai menempatkannya, kapan dan dimana. Teman saya menyebut kondisi itu dengan istilah “ngonteks” (diambil dari kata dasar konteks/kontekstual).

Menjadi “sesuatu” ada didalam mimpi semua orang. Tidak terkecuali buat anak-anak Laskar Pelangi. Sekelompok anak kecil yang tinggal di Pulau Belitong (sebelumnya tergabung dalam Provinsi Sumatera Selatan, yang kemudian menjadi Provinsi Bangka-Belitung), yang berjuang “setengah hidup” untuk mengenyam pendidikan di sebuah sekolah kampung bernama Perguruan Muhammadiyah, sebuah sekolah dengan atap bocor, berdinding papan, berlantai tanah, atau yang kalau malam dipakai untuk menyimpan ternak. Mereka menjadi berani bermimpi, bercita-cita, setelah dua orang temannya, Lintang dan Mahar, mampu mengangkat nama sekolah mereka yang sebelumnya tidak pernah dianggap apa-apa. Kisah yang dituturkan oleh Andrea Hirata mengalir sangat indah, memberikan inspirasi bagi yang membacanya, bahkan orang-orang yang memberikan komentar terhadap buku ini menyebut Andrea seperti sedang trance saat menulisnya (karena ditulis hanya dalam waktu tiga pekan), tentu dengan kadar emosi yang kental, bertabur metafora penuh pesona dan yang pasti, membuat pemabacanya juga menjadi trance. Bagaimana tidak, salah seorang teman saya (yang sebelumnya tidak pernah saya lihat menangis) sampai menitikkan air matanya ketika membaca buku ini. Wajar saja kalau buku ini sudah naik cetak enam kali hingga Februari 2007.

Saya suka menyebut istilah “mengacak-acak perasaan” kepada buku atau film yang membuat saya kepikiran setelah membaca atau menontonnya. Dan istilah itu juga ingin saya lekatkan pada buku ini. Buku yang memotret ironi kondisi perekonomian dan pendidikan di negeri ini yang sangat memprihatinkan, membuat hati kita sangat miris, namun disisi lain mengajak kita untuk lebih menghargai sekolah, pendidikan, dan mencintai ilmu pengetahuan. Buku ini juga mengobarkan semangat untuk mengejar apa yang menjadi mimpi-mimpi kita.

Dan inilah potongan kalimat yang tertinggal didalam kepala saya setelah selesai membacanya (mungkin karena saya termasuk orang bodoh):

“Orang cerdas memahami konsekuensi setiap jawaban dan menemukan bahwa dibalik sebuah jawaban tersembunyi beberapa pertanyaan baru. Pertanyaan baru tersebut memiliki sejumlah jawaban yang kembali akan membawa pertanyaan baru dalam deretan eksponensial. Sehingga mereka yang benar-benar cerdas kebanyakan rendah hati, sebab mereka gamang pada akibat dari sebuah jawaban. Konsekuensi-konsekuensi itu mereka temui dalam jalur-jalur seperti labirin, jalur yang jauh menjalar-jalar, jalur yang tak dikenal di lokus antah-berantah, tiada berujung. Mereka mengarungi jalur pemikiran ini, tersesat jauh didalamnya sendirian”

“Godaan-godaan besar bersemayam di kepala orang-orang cerdas, di dalamnya gaduh karena penuh dengan skeptisisme”

“ Orang cerdas berdiri didalam gelap, sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Mereka yang tak dipahami oleh lingkungannya, terperangkap dalam kegelapan itu. Semakin cerdas, semakin terkucil”

Dan juga kalimat yang ini (kalau ini karena saya pemalas):

“Nasib, usaha, dan takdir bagaikan tiga bukit biru samar-samar yang memeluk manusia dalam lena. Mereka yang gagal tak jarang menyalahkan aturan main Tuhan. Jika mereka miskin mereka mengatakan bahwa Tuhan, melalui takdirNya, memang mengharuskan mereka miskin. Bukit-bukit itu membentuk konspirasi rahasia masa depan dan defenisi yang sulit dipahami sebagian orang. Seseorang yang lelah berusaha menunggu takdir akan mengubah nasibnya. Sebaliknya, seseorang yang enggan membanting tulang menerima saja nasibnya yang menurutnya tak ‘kan berubah karena semua telah ditakdirkan. Inilah lingkaran iblis yang umumnya melanda para pemalas. Tapi yang pasti pengalaman selalu menunjukkan bahwa hidup dengan usaha adalah mata yang ditutup untuk memilih buah-buahan dalam keranjang. Buah apapun yang didapat, kita tetap mendapat buah. Sedangkan hidup tanpa usaha adalah mata yang ditutup untuk mencari kucing hitam di dalam kamar gelap dan kucingnya tidak ada”

sumber dari : http://septemberduatujuh.blogspot.com

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help