Ass… haloooooooo selamat soreee, blognya keren, isinya juga hmmmm…. Menarik, o’yah.. sudah baca laskar pelangi belum??? Kalo sudah, plis yah… bagi-bagi. Kira-kira apa hikmahnya, terus… nilai-nilai pendidikan islam dalam laskar pelangi tuh apa??? Di blz yang panjang yaaaa.. coz it’s very different blz ke mp Q yah (penting banget buat skripsiku hehehe. Terima kasih ya fren sebelumnya.

Blog Entrywawancara dengan kak Andrea Hirata part 1May 5, '08 12:49 AM
for everyone

Sosok Andrea, sangat sederhana. Hal itu tergambar jelas dalam tiga novel Tetralogi Laskar Pelangi yang tak lain bercerita tentang kisah hidupnya di tanah kelahirannya, Belitong. Namun, dengan kesederhanaan itu, Andrea Hirata tampil cukup mengejutkan di dunia kesusastraan Indonesia. Baru pertama kali menulis novel, tapi karya-karyanya langsung menjadi best seller. Tawaran untuk memfilmkan karyanya pun berdatangan.

Tak salah pula jika sarjana lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, S2 dari Sheffield Hallam University, Inggris dan Universite de Paris, Sorbonne Prancis ini disebut sebagai penulis yang rajin karena bukunya terbit setiap tahun. Dimulai dengan LP pada September 2005, SP pada Juli 2006, dan Edensor pada Mei 2007.

Kesan dan pelajaran apa yang saya petik dari Andrea? Buanyak, sampe tak bisa saya sebutkan satu per satu karena banyaknya. Saya suka mengutip kata2 Arai di Edensor: "Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi2 itu." Kalimat itu, mewakili segalanya tentang Andrea. Semangat hidupnya, pantang menyerahnya, cita-citanya, hidupnya, segalanya.

Inilah petikan wawancara saya dengannya, Juni 2007 lalu;

Yati Maulana (YM): Saat melakukan perjalanan ke Eropa dan Afrika, apakah memang telah terpikir untuk membukukan kisah itu? Atau hanya karena sudah 'terlanjur' menerbitkan LP dan SP?

Andrea Hirata (AH): Pertanyaan yang menarik, terutama karena tanpa disadari atau tidak, ternyata di antara kita tumbuh, ramai, dan berkembang komunitas backpacker, baik yang terorganisir maupun tidak, bahkan sudah ada mailing list-nya. Sehubungan dengan ini, menulis novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi itu yaitu Edensor, aku menghadapi dua situasi. Pertama, seperti niat kebanyakan backpacker, mereka selalu ingin menulis pengalaman perjalanan, namun sering terhambat karena mungkin tak terbiasa menulis, sebagian lain berkecil hati ketika cerita pengalaman perjalanan yang hebat ternyata ketika ditulis menjadi tidak seru.

Maka bagiku menulis cerita backpacking dalam novel Edensor sudah direncanakan lama. Ketika karya itu selesai aku merasa seperti anak ayam yang baru menetas, karena merasa berhasil mengatasi kesulitan menulis cerita perjalanan yang banyak dialami para backpacker. Berhasil dalam arti subjektif, sebab apakah novel Edensor menarik atau tidak semuanya tergantung selera dan penilaian pembaca.  Situasi kedua adalah konsekuensi cerita. Bagiku menulis Edensor menjadi semacam keniscayaan karena pengalamanku mendapat beasiswa ke Prancis lalu berkelana ke seantero Eropa dan Afrika merupakan bagian dari kronologi tetralogi Laskar Pelangi. Secara singkat dapat kugambarkan bahwa Tetralogi Laskar Pelangi terdiri atas cerita Laskar Pelangi ketika aku kecil di kampung, kemudian cerita Sang Pemimpi ketika menginjak remaja, disambung dengan Edensor ketika dewasa, dan terakhir cerita Maryamah Karpov, yaitu kembali lagi ke kampung.

YM: Rasanya di buku ketiga ini, ada kemiripan dengan The Alchemist-nya Paulo Coelho. Mungkin kebetulan saja atau karena memang sama-sama "dalam pencarian"?

AH: Aku harus jujur mengakui satu hal, bahwa mungkin saja aku penulis yang rajin. Orang bilang lumayan produktif karena aku selalu menyelesaikan novel-novelku dalam hitungan minggu (menurutku sih hal ini tak terlepas dari penyakit akut insomnia yang menyiksaku, sehingga sampai malam nggak ada yang dikerjakan lalu aku menulis), namun aku adalah seorang pembaca yang buruk. Aku menghabiskan demikian banyak waktu hanya untuk membaca buku-buku sastra yang tipis sekalipun. Barangkali ketika membaca aku benar-benar meresapi. Jika berjumpa dengan bagian yang bagus kuulang berkali-kali sampai hampir hapal. Akibatnya aku belum banyak membaca buku termasuk belum membaca Alchemist Paulo Coelho. Tapi aku telah membaca resensinya, barangkali kemiripan Edensor dan Alchemist adalah keduanya berkisah tentang kekuatan mimpi dan semangat manusia.

YM: Ketika SP jadi best seller, kabarnya sempat akan difilmkan. Kalau akhirnya setuju bukunya difilmkan, siapa sutradara yang akan Anda pilih? Anak muda yang idealis, atau mungkin Garin Nugroho?

AH: Terima kasih banyak pada para pembaca yang telah menghujaniku dengan banyak sekali SMS dan email agar aku tidak memfilmkan novel-novelku. Barangkali mereka sering kecewa dengan novel yang difilmkan. Aku sangat memperhatikan saran-saran para pembaca. Tawaran untuk memfilmkan Laskar Pelangi telah muncul sejak tiga minggu pertama novel itu beredar dan dinyatakan best seller, namun aku sangat selektif meskipun telah diimingi sejumlah uang yang amat menggiurkan. Belakangan aku aktif ngobrol dengan Riri Riza, menurut pendapatku Riri adalah sineas muda yang visioner dan cerdas. Jika nanti memang ada kesempatan yang baik untuk memfilmkan novel-novelku, besar kemungkinan aku akan bekerja sama dengan Riri. Tapi tak tertutup kemungkinan juga dengan Mas Garin, aku merasa terhormat jika bisa bekerja dengan mereka. Namun tentu saja aku sangat memperhatikan pendangan dari para pembaca bukuku. Mereka adalah prioritas utama bagiku sehingga adaptasi novel-novelku menjadi film akan melalui tahap-tahap yang sangat mempertimbangkan ekspektasi para pembaca.

YM: Di Edensor, cuma ada cerita tentang nama Andrea. Lantas Hirata-nya dari mana? Ada yang mengira itu nama Jepang?

AH: Nama Hirata juga sering menyulitkanku. Di beberapa toko buku, bukuku sering dipajang di rak buku terjemahan karena aku disangka orang Jepang. Padahal aku orang Belitong asli. Hirata adalah nama orang kampung di pedalaman Belitong sana, nama daerah, nama yang amat tradisional

YM: Saya tertarik pernyataan Linda Christanty di sampul Edensor yang bilang, Andrea Hirata membuatku mabuk kepayang. Bagaimana  rasanya di-mabuk-kepayang-i Linda dan banyak perempuan lain?

AH: Aku selalu berusaha positif. Aku menganggap pendapat orang atas karyaku sebagai bentuk apresiasi dan untuk itu aku berterima kasih dengan takzim. Terlepas dari segala teori dan pakem sastra serta ikon-ikon industri buku, bagiku pembaca adalah bagian terpenting dari seluruh proses berkaryaku dan bagian paling esensial dalam ranah  perbukuan.Aku senang karena reaksi pembaca bukuku terutama karena bukuku, bukan karena aku. Buktinya, ketika diskusi bukuku di Fakultas Ilmu Budaya , Universitas Indonesia baru-baru ini  seorang perempuan cantik berdiri dan berteriak "Andrea, gue mau protes, ternyata dirimu tak secakep fotomu!" ha..ha..ha..

YM: Pernah bertemu langsung dengan Anggun C Sasmi?

AH: Aku belum pernah jumpa dengan Anggun

YM: Kalau ketemu, apa yang Anda ingin katakan pada dia?

AH: Jika berjumpa dengannya aku mau bilang, "Anggun, tulis dong lagu untuk menghormati para guru." Tahukah kawan? Satu-satunya artis Indonesia yang punya International Fans Club hanya Anggun. Nggak percaya? Cek web-nya.

YM: Bagaimana Anda menilai dia dan segala perjuangannya hingga Anggun begitu ngetop di Prancis?

AH: Bagiku Anggun adalah antitesis dari sikap kebanyakan selebritis yang memegahkan diri sendiri dengan memanipulasi selera rendah sebagian besar orang. Anggun tampil dengan mutu tinggi dan kualitas karya berstandar internasional.

YM: Kalau ditawari membuat biografi Anggun, Anda bersedia?

AH: Bikin biografi Anggun? Mungkin aku tak mampu, karena menulis biografi butuh keahlian tersendiri dan aku bukan ahlinya. Kalau Anggun menawariku, job itu akan kulungsurkan lagi pada Linda Christanty, ha..ha..

YM: Maryamah Karpov terbit kapan?

AH: Maryamah Karpov masih akan lama sekali terutama karena di tempat kerjaku di Telkom sekarang aku bekerja di bagian yang aku sukai, jadi aku sedang bersemangat kerja nih. Juga karena Maryamah Karpov adalah cerita tentang perempuan dan ternyata menulis cerita tentang perempuan sangat tidak mudah. Perempuan dengan daya tahannya yang luar biasa mengatasi rasa sakit dan kekuatan raksasa hati nuraninya tak mudah begitu saja diurai.

YM: Setelah tetralogi ini, ada rencana bikin buku lagi?

AH: Setelah Maryamah Karpov aku tertarik untuk menulis buku ilmiah di bidang spesialisasiku yaitu ekonomi telekomunikasi. Dulu aku mendapat beasiswa di Sorbonne untuk mempelajari ekonomi telekomunikasi. Bidang ini sudah umum di luar negeri namun merupakan barang baru di Indonesia. Biar beasiswa dan pendidikanku itu ada manfaatnya bagi masyarakat luas, aku ingin menulis buku di bidang ini. Sebenarnya buku ekonomi telekomunikasi telah kutulis, telah diterbitkan oleh penerbit ITB dan beredar luas. Yang akan kutulis adalah edisi keduanya.

YM:  LP, SP, Endensor, sejauh ini masing-masing berapa kali cetak dan laku berapa ribu kopi?

AH: Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi Alhamdullilah akan naik cetak kedelapan dengan jumlah mungkin sekitar 50 ribuaN kopi, dan Laskar pelangi telah pula best seller di luar negeri.

YM: Ada pengalaman mengesankan, menyedihkan atau apapun selama promo?

AH: Pengalaman yang menggembirakan jika dalam diskusi ada seseorang membawa naskahnya lalu karya itu langsung disikusikan bersama karyaku, jadi bisa saling belajar. Yang menyedihkan adalah mendapati sebagain besar anak muda menulis buku dengan menambatkan dirinya demikian kuat pada pengaruh industri buku. Dalam pikiran mereka hanya bagaimana membuat buku yang laku dan menjadi terkenal. Sebagian besar mereka tak peduli dengan riset ketika menulis buku dan tak mau repot berusaha menulis buku yang lebih berkapasitas, lebih menyedihkan lagi sebagian sangat menyukai hal-hal yang pornografik.

YM: Setelah ini, apalagi mimpi Anda?

AH: Aku ingin tinggal dan mungkin menetap di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia di Himalaya, itulah mimpiku sekarang.

YM: Oh iya, akan diapakan royalti buku Anda? Apakah membangun sekolah atau lembaga pendidikan dan semacam itu atau untuk bekal berpetualang lagi, atau untuk modal hidup di negeri mana?

AH: Seperti tekadku selalu, royalti bukuku akan digunakan untuk membangun perpustakaan di kampungku yang sampai hari ini belum juga punya perpustakaan. (*)

sumber dari :   http://perempuanapi.multiply.com

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help