Ass… haloooooooo selamat soreee, blognya keren, isinya juga hmmmm…. Menarik, o’yah.. sudah baca laskar pelangi belum??? Kalo sudah, plis yah… bagi-bagi. Kira-kira apa hikmahnya, terus… nilai-nilai pendidikan islam dalam laskar pelangi tuh apa??? Di blz yang panjang yaaaa.. coz it’s very different blz ke mp Q yah (penting banget buat skripsiku hehehe. Terima kasih ya fren sebelumnya.

Blog Entrywawancara dengan kak Andrea Hirata part 2May 5, '08 12:50 AM
for everyone

"Suatu komoditi harus terlihat berguna atau cukup berguna agar orang lain membelinya" - Karl Marx

Andrea Hirata, seorang penulis novel tetralogi Laskar Pelangi, kemarin pada tanggal 11 November 2007, menghadiri obrolan singkat atau jumpa fans lebih tepatnya di toko buku baru MP Bookpoint bersama Meutia Hafidz, seoarng reporter Metro TV yang menulias kisah pengalaman pribadinya “168 Jam Dalam Sandera”, dan pembicara ketiga adalah moderator dari website millsbeasiswa, Ibu Pangesti yang juga merupakan dosen FBS UNY. Acara ini dimeriahkan oleh orkes keroncong yang membawa hati ke suasana melayu pedalaman yang kuna tapi eksotik. Acara pertama malam itu adalah pemutaran trailer film Laskar Pelangi. Dalam trailer itu disebutkan bahwa film ini mengisi ruang kosong apresiasi terhadap dunia pendidikan di pedalaman yang jauh akan hingar bingar modernisasi kota. Betapa Laskar Pelangi ini dipuji-puji oleh kalangan dosen dan penikmat seni. Tampak dari trailer tersebut bagaimana bentuk sosok dari Laskar Pelangi, seperti Samson, A Kiong, dan Harun. Film Laskar Pelangi ini akan mulai shooting pada akhir November 2007 dan akan diputar untuk publik pada September 2008 nanti. Acara dilanjutkan dari pengantar singkat dari Andrea Hirata, Meutia Hafidz, dan Ibu Pangesti. Berikut ini hasil rekaman untuk bagian Andrea Hirata: “Meraih mimpi masa depan, kalau itu mungkin bagaimana caranya mewujudkan sebuah mimpi? Tentunya sebagai seorang mahasiswa anda harus bertanggung jawab nih!”

“OK, Assalamu’alaikum wr, wb, selamat malam, kemaren saya baru dari acara Media Group Metro tv di ITB tuh mbak meutia, saya dating untuk memberi semangat kepada anak-anak muda di sana yang sedang tidak beruntung karena narkoba tu mbak, dan ketika ada pertanyaan ‘Bagaimana harimu?’, ‘Dahsyat!’ mereka bilang, dan saya melihat itu sebagai orang-orang dengan penuh mimpi. OK, saya tidak bisa mengkonstelasikan [menghubungkan] antara apa yang saya miliki dulu, dan itu membawa kaki saya sampai ke Cote d’Ivoire [baca:kotdivoar] jauh ditimur Afrika sana, padahal saya berasal dari pulau yang paling udik di Belitong sana. Tidak ada logical explanation untuk menjelaskan bagaimana bisa mencapai hal itu apalagi mengingat masa lalu saya yang sangat terbatas. Mimpi itu memberikan energi dan visi bagi saya, dulu saya berjalan ke sekolah 40 kilometer kalau sempat baca Edensor, buku yang sebenernya saya paling nggak pede sebenernya, tapi malah mendapat KLA [Khatulistiwa Literature Award]. Nggak tau tuh orang-orang itu, sok tau! Yang namanya orang sastra itu suka narsis dan sok tau, dua hal itu. Saya sebenarnya lebih pede dengan Sang Pemimpi dan Laskar Pelangi. Saya piker nggak mungkin orang kampong macam saya bisa sampai ke Afrika. Tapi itulah tenaga mimpi. Don’t ever underestimate the power of dreams! So, dream on!”

“Tidak ada logical explanation untuk bisa sesukses itu, tidak ada penjelasan yang hampir mungkin untuk itu! Apa untuk sesukses Andrea kita harus miskin dulu? Bagaimana Anda menjelaskan hal ini?” ”Begini, ini masalah paradigma sebenarnya. Kita itu selalu beranggapan bahwa sesuatu yang meaningful itu tidak datang dengan mudah. Ada sebuah pertanyaan waktu saya ada di UI, ’Andrea, saya itu berkecukupan tapi saya nggak fight gitu!’. Lalu saya jawab miskin dulu saja, tidak ada logical explanation untuk hal ini dan sebenarnya ini adalah masalah personal attitude aja. Kalau dulu saya kaya saya jadi seperti, ada seorang sutradara yang lagi naik daun, itu belum lahir aja udah kaya, lalu setelah berkembang dia disekolahkan di sekolah directing di Amerika sana. Saya pikir kalau saya kaya, I can do much better than this, karena saya punya resources gitu. Jadi kalau kita kaya ya harus fight bener, tidak ada hubungannya orang miskin terus fight. Banyak orang miskin, fight, jeblok tambah miskin, ada tuh yang kaya gitu. Jadi itu personal attitude aja, saya pikir bagaimana orang bisa bersyukur aja. Tidak mungkin pagawai Telkom yang sehari-hari kerjanya ngurusin kabel, apalagi pendidikan saya ekonomi bisa menulis novel? Itu tidak mungkin jika saya bukan seoarang dreamer. Tidak mungkin wanita cantik disebelah saya ini yang rada-rada kayak Mel Sandhin, dan saya kayak Mel Gibson, bisa terjebak di sarang penyamun, bayangkan! Jauh di negara Parsi sana, Irak, jadi itu hanya pesoalan personal attitude aja. Tiga rumus yang selalu saya sampaikan, positive thinking, positive feeling, and positive action!”

“Bagaimna kabar A-Ling? Apa yang anda lakukan terhadap royalti anda, kenapa anda bermimpi harus ke Kya Gompa, tidak ke Belitong saja dan mengubah belitong gitu? Bagaimana caranya mewujudkan mimpi?” “Tentang kabar A-Ling, bacalah Maryamah Karpov yang akan diterbitkan setelah film Laskar Pelangi. Apa yang akan saya lakukan di Belitong setelah saya mendapat royalti. Sebenarnya saya ingin mendirikan pusat pendidikan dan learning center di sana, tapi kemudian saya berpikir lagi. Sebenarnya saya ingin menyelesaikan tertralogi ini sebagai sebuah gambaran utuh tentang sosiologi rakyat melayu pedalaman sana. Saya ingin menggunakan filosofi pancing dan ikan gitu. Apalah artinya saya menalokasikan royalti ini sebesar-besarnya dibandingkan semangat yang anda dapatkan dari buku ini. Kemarin saya ke ITB, dan saya mebuka pendaftaran relawan. Saya tawarkan ‘Ayo ke kampung saya, tiket saya bayarin, tidur di rumah Ibu saya, makan seadanya, hari minggu dapat honor seadanya, hari minggu saya bawa jalan-jalan ke pantai di Belitong sana tetapi anda mengajar fisika, matematika’. Ternyata relawannya membludak! Bagaimana caranya mewujudkan mimpi? Sebenarnya ini pertanyaan klise, tapi bisa dijawab secara technical gitu. Jadi bermimpi itu tidak hayna sekedar bermimpi. Saya bermimpi saya pikir produser film Laskar Pelangi ini salah minum obat, dia bilang ‘Andrea, kalo nanti Maryamah Karpov selesai, sutradarai sendiri ya!’. Saya berani bermimpi, tapi saya tidak sekedar bermimpi. Dulu waktu SMA saya bermimpi untuk bisa kuliah di Paris dan ketika keswempatan itu ada, saya tidak pernah melewatkan satu kesempatan pun. Maaf, bukannya takabur, bukannya narsis, bukannya pamer, saya tidak pernah tidak lulus. Saya benar-benar berusaha, fight, gitu. Tapi banyak di antara kita yang melamar gagal, TOEFL di bawah 550, meyedihkan! Nah, bagaimana mimpi bisa menjadi kenyataan? Setiap ada kesempatan, don’t miss it. Do your best for it, OK!”

“Bagaimana Ibu Muslimah? Apa sih key writing anda sebagai seorangh penulis Laskar Pelangi? Bagaimana wujud implementasi dari hokum Andera tadi?” “Begini, andai dulu ada Ibu Pangesti ini, …, terus saya mengalami tuh pahit getirnya beasiswa, pakai aja nothing to lose mentality. Apa sih yang anda takutkan dengan nekat pergi ke luar negeri, kemudian bekerja mati-matian di sana untuk studi anda. Saya menemui orang Brasil seperti ini. Anda tahu itu Capoera? Mereka biasanya mengamen di jalan-jalan dan itu berhasil gitu. Yang penting kita harus kadang-kadang memiliki nothing to lose mentality, gitu! Asal berangkat aja, urusan yang lain ntar! Ibu Muslimah, beliau mulai mengajar mulai dari umur 15 tahun berbekal ijazah SKP [Sekolah Kepandaian Putri], ya sekolah masak-memasak, rajut-merajut gitu. Intinya adalah kebanggaan terhadap profesinya. Bangga bener jadi guru. Suka banget mencari-cari cara untuk bisa menjelaskan sesuatu gitu. Menurut penelitian Laskar Pelangi dibaca oleh anak berumur 7 tahun dan kemarin dikritik oleh kakek berumur 70 tahun. Key writing, kalo saya terjemahkan kurang-lebih motivasi menulis gitu kan? Sebenarnya Laskar Pelangi ini tidak diniatkan untuk diterbitkan, ini sebenarnya dipersembahkan kepada Ibu Muslimah waktu dia sakit. Tapi terus dicuri sama temen saya, lalu dikirim ke Bentang Pustaka atas nama saya. Implementasi dari positive thinking, positive feeling, and positive action? Sebenarnya ini matematis aja ya, seperti operasi: PT x PF = PA Jadi kalau positive thinkingnya positif, terus positive feelingnya positif, maka akan menghasilkan positive action yang positif juga. Tapi kalau positive thinkingnya positif, terus positive feelingnya nol, maka akan menghasilkan positive action yang nol, nggak ada apa-apa. Ini adalah suatu sistem dalam personality. Ini adalah buku yang menertawakan tragedi, memparodikan ironi akan mengkritik tanpa memaki-maki. Inilah implementasi dari positive feeling saya rasa.” “Apakah anda masih berniat sekolah lagi? Bagaimana kabar Arai?” “Mencari beasiswa itu yang susah itu untuk menanjutkan ke S2, tapi dari S2 ke S3 itu gampangnya bukan main. Nah, saya tidak mengambil S3 karena ada beberapa alasan pribadi, apalagi akhir-akhir ini saya sering-sering pulang karena kondisi Ibu saya yang kurang begitu baik akhir-akhir ini. Banyak yang titip salam sama Arai ini, tapi nggak ada yang titip salam sama saya, tapi nggak pa pa saya mau diajak mbak Meutia ke Aceh nih! Arai ini lebih banyak akan dibicarakan di Maryamah Karpov tapi saya bocorin sedikir nih, dia ambil S3 di Essex University di sebuah kota utara London di bidang Biotek, lebih lengkapnya kanapa dan bagaimana dia bisa sampai disana, bacalah Maryamah Karpov!”

Sekian rekaman ini ditulis ulang dan diubah seperlunya oleh Sony Adam Saputra, seoarng mahasiwa Geofisika yang penuh mimpi dan harapan akan masa depan yang akan secerah mimpi-mimpi itu. -faz-

sumber dari  : http://fraithzone.blogspot.com/2007/

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help