Hernowo: “Oke, saya ingin menggunakan apa yang dialami Andrea sekarang ini dengan kenyataan bahwa banyak orang pesimis dengan profesi penulis atau dia menekuni dunia itu. Di sekolah-sekolah ini senantiasaaa…kalau orang mau jadi penulis, dibilang: “Kamu hidupnya bakal nggak bagus, miskin dsb…Bagaimana ini? Anda mau berpesan apa kepada mereka..Dan saya lihat banyak anak-anak yang sebenarnya punya keinginan kesana dan bermimpi ingin jadi Rowling, ingin jadi Anda. Ini..apa yang ingin Anda sampaikan tentang keinginan jadi penulis, karena memang anda sudah mengalami sesuatu yang luar biasa…”
Andrea: “Jadi saya rasa, apabila kita menulis untuk imbalan materi, saya rasa pendapat itu tidak juga keliru ya... Pesimisme itu tidak juga keliru. Bayangkan kalau rata-rata penulis paling top kalau dia dapat royalty 15% -paling top- dengan harga buku Rp 30.000, dan berdasarkan cerita dari orang-orang yang bekerja di industri buku, mencari buku yang laku di atas 3.000 buku per tahun itu susah, saya rasa pesimisme itu beralasan. Tapi, itu kalau motifnya untuk royalty…
Alhamdulillah kalau saya cukup signifikan karena penjualannya memang cukup signifikan. Ini matematika sederhana saja. Namun…ada “much more” dari sekedar royalti ketika kita menulis. Bagaimana buku akan mempengaruhi orang, lihatlah itu bagaimana kuatnya pengaruh buku kepada pembaca. Kemudian lebih daripada itu, buku itu dari proses menulis, sebenarnya “fullfilling our self”, mengisi diri sendiri. Menulis buku itu mengisi diri sendiri, karena buku itu refleksi dari banyak hal. Makanya saya percaya dengan apa yang disebut Psikolinguistik, kalau orang berasalan bahwa orang terlihat dalam tulisannya, karakter-karakter orang, dan bagaimana dia sendiri bisa berekspresi ya dalam tulisannya. Jadi, menulis itu banyak hal positif (yang bisa diambil) dari sekedar iming-iming royalty.”
Hernowo: “Betul, betul…”
Andrea: “Apabila dia memiliki minat kepada riset, disitulah tempatnya. Apabila dia memiliki minat kepada psikologi, disitu bisa menjadi tempatnya. Makanya, berdasarkan pandangan itu, saya percaya bahwa: TULISAN YANG BAIK ADALAH TULISAN YANG MENGANDUNG POSSIBILITY…”
“Karena, dalam sebuah tulisan yang baik, satu paragraf misalnya, itu kalau saya lihat dari penulis-penulis yang sudah “jadi” ya –seperti Pak Pram kalau di Indonesia, atau seperti Antonius Carmetta*, Truman Capotte*, ya pak Hernowo antara lain. Pak Hernowo sendiri, saya sangat kagum dengan kreatifitas tema. Saya kira, orang nomor satu dalam kreatifitas tema adalah Pak Hernowo, bukan karena sedang diwawancara loh…”
Hernowo: “Iya, hahaha…”
Andrea: “Itu memerlukan skill tersendiri, dan memang luar biasa untuk pakar kreatifitas tema. Itu…apa satu serial Bapak yang sukses besar?”
Hernowo: “Ini menjadi guru”?
Andrea: Bukan…Satu serial yang kemarin itu loh…”
Hernowo: “Harry Potter…”?
Andrea: “Serial sebelumnya…”
Hernowo: “Muslim dan fakir!”
Andrea: “Bukan, bukaann…”
Hernowo: “Andaikan buku sepotong pizza!”
Andrea: “Bukan, ada lagi…”
Hernowo: “Mengikat Makna!”
Andrea: “Ya, mengikat makna! Tema yang dirilis…Jadi, tema banyak aspeknya, karena setelah saya belajar di pengalaman pendek saya terjun ke dunia sastra: APABILA KITA PERCAYA KEPADA PARADIGMA LAMA UNTUK MENILAI SEBUAH SASTRA YANG BAIK, KITA AKAN TERSESAT SENDIRI.”
Saya membaca itu, kalau paradigma lama percaya dengan penokohan, percaya dengan plot, percaya dengan karakterisasi, percaya dengan metafora, percaya dengan komposisi, dialog narasi dan sebagainya itu –sekarang kita baca Aland Naightpen*, paradigma itu? Bubar semua..”
Hernowo: “Menarik juga, tapi apa yang saya pahami dari apa yang diciptakan Andrea ini, berangkat dari diri gitu lho. Ini, saya juga merasakan betul. Mengikat Makna itu kan, “Lo, ini ada yang bisa saya ungkapkan ini…”
“Ini yang saya setuju juga dengan: kalau menulis jangan Cuma berangkat dari royalty, karena dalam diri kita itu kaya betul…Sebuah sumber yang luar biasa! Saya kira Anda bisa bicara banyak tentang Laskar Pelangi. Sebenarnya saya kira itu adalah kekayaan anda yang luar biasa itu…”
Andrea: “Jadi, kalau saya kembalikan kepada paradigma lama tadi, dengan komposisi, dialog, narasi..Kan ada sebuah karya itu kan yang dapat penghargaan “Gomkort*”, penghargaan sastra tertinggi di Perancis itu…Margareth Dulla de Lamperd*: nyaris tidak ada dialognya!”
Hernowo: “Oh gitu!?”
Andrea: “Dan itu buku yang sangat hebat! Akhirnya saya percaya: (suara tidak jelas) “TIDAK ADA SATU JAWABAN YANG PASTI UNTUK SEBUAH BUKU YANG BAGUS”. Namun, ada satu pola umum dari sebuah buku yang bagus –menurut pendapat saya-.”
Hernowo: “Apa itu?”
Andrea: “POSSIBILITY tadi…”
Hernowo: “Jadi, memberikan kemungkinan, peluang yang luar biasa!”
Andrea: “Dari satu bab itu, pembaca jadi dapat banyak hal. Ini paragraf mengandung kemungkinan science. Ini paragraf mengandung kemungkinan estetika. Ini paragraf mengandung kemungkinan semiotika. ini paragraf mengandung kemungkinan intelektualitas. Ini paragraf menantang keyakinan saya. Ini paragraf menghina saya. Ini paragraf memojokkan saya. Ini paragraf menyadarkan saya. Jadi: Possibility!”
Hernowo: “Ini persis! Kemarin waktu saya dialog dengan pengunjung, kemarin ada Haidar* waktu saya meluncurkan buku di MP Book Point itu, dia mengatakan kalau buku ini bukan benda mati ini, ini makhluk hidup! Saya kira anda setuju ya dengan statemen itu..”
Andrea: “Itulah maksud saya! Jadi, paragraf itu hidup…”
Hernowo: “Iya, jadi bisa buat orang merenungkan dirinya, bisa membuka peluang yang..Saya kira begitu!”
Andrea: “Dalam bahasa pak Haidar: HIDUP, dalam bahasa saya: POSSIBILITY, kemungkinan!”
Hernowo: “Ya, ya…”
Andrea: “Karena dia dinamis!”
Hernowo: “Betul, betul..”
Andrea: “Makanya kalau kita membaca satu paragraph Antonius Carmetta*, rasanya satu bab itu bisa menjadi buku.” Hernowo: “Ok, ya, ya…”
Andrea: “Karena possibility-nya tadi! Dan si penulis itu demikian hebatnya, demikian cerdasnya. Dia mengetuk-ngetukkan simpul-simpul dalam kepala pembaca itu…Nah, itulah sebetulnya tantangan kita..”
Hernowo: “Saya sering…Saya kan punya istilah namanya: Buku Bergizi…”
Andrea: “Nah!”
Hernowo: “Itu, buku yang bagus memang yang menggerakkan pikiran…Bukan hanya dalam arti kita hanya menikmati apa yang disajikan. Tapi kita diberi peluang untuk mencari sesuatu yang sangat kaya…”
Ngomong-ngomong, sekarang ada semacam rumus –saya ndak tahu bung Andrea setuju ndak…UNTUK JADI PENULIS YANG BAIK MEMANG AWALNYA MEMBACA…”
Andrea: “Saya kira begini…kenyatannya: saya ini bukan pembaca sastra, pak…”
Hernowo: “Ok, ya, ya…”
Andrea: “Sampai saat ini saya baru membaca…”
Hernowo: “Tapi saya dengar kan di bab-bab terakhir Laskar Pelangi waktu anda tukang pos itu, Anda kan membaca. Maksud saya bukan hanya sastra. Dan saya kira anda benar-benar pembaca yang luar biasa. Bukan hanya sastra ya, maksud saya memang buku-buku yang mampu memperkaya diri Anda..”
Andrea: “Jadi: SAYA ADALAH SEORANG PEMBACA...”
Hernowo: “Ok, ya, ya…”
Andrea: “Tapi, baru sedikit membaca sastra. Sekarang, sebagai gambaran, saya waktu itu dinas di Telkom Surabaya, saya dipindah ke Telkom Medan, berkemaslah saya. Mengepak gitu…Buku demi buku demi buku, setelah saya timbang: BUKU SAYA BERATNYA 1,5 TON…”
Hernowo: “dari kontrakan atau kosan anda saja itu ya…”
Andrea : “Buku-buku science, temuan-temuan terbaru, Kimia, Fisika, Biologi, IT, Matematika, Statistika, hasil-hasil riset, jurnal-jurnal luar negeri –tentang ekonomi, makro, mikro…Memang hanya sedikit novel…”
Hernowo: “Kalau anda sebut tadi Antonio Carmetta* itu?”
Andrea: “Nah, itu sebenarnya sesudah baca Laskar Pelangi. Ah, sebelum, sebelum menulis Laskar Pelangi…Sebelum nulis Laskar Pelangi saya Cuma sempat membaca satu novel seumur hidup saya..”
Hernowo: “Apa itu?”
Andrea: ………(Maaf, tidak jelas)
Hernowo: “Oh…”
Andrea: “Tapi, saya selalu membaca buku-buku science, makanya di Laskar Pelangi atau di tiga buku itu, saya cukup kontekstual ya ketika saya menceritakan fenomena Fisika, ketika saya menceritakan sedikit sosiologi, psikologi, saya lumayan dapet feelnya. Dan kontekstual…ya dapet juga. Walaupun tulisan itu menjadi tidak terlalu sastrawi. Dan saya pikir dalam keseimbangan dua hal itulah pembaca menikmati karya-karya itu.”
Hernowo: “Memang yang tidak ingin saya katakan itu kita Cuma membaca satu bidang tertentu saja, atau misalnya sastra saja. Bukan, bukan…Justru yang saya bayangkan itu kita memperlebar pikiran kita.”
Andrea: “Saya sarankan, saran saya buat para penulis: JANGAN HANYA MEMBACA SASTRA.”
Hernowo: “Hahaha!”
Andrea: “Jadi, itu ibaratnya seperti pelukis. Pelukis itu disarankan jangan hanya melukis kan, tapi banyak banyak membaca kan?”
Hernowo: “Betul, betul. Saya kira iya, betul…”
Andrea: “Begitu pula penulis. Penulis memang disarankan membaca, tapi jangan hanya membaca sastra. Baca itu: Penemuan terbaru, bagaimana kebijakan politik Amerika, temuan terbaru tentang energy alternatif, temuan terbaru tentang bangkrutnya teori evolusi, temuan terbaru yang ternyata dinosaurus selama ini semakin terpatahkan teorinya. Nah, itu kan akibatnya luar biasa terhadap tulisan.”
Hernowo: “Ya…itulah yang saya ambil kesimpulan. Itu yang buat itu..apa..possibility muncul di tulisan-tulisan kita.”
Andrea: “Iya. Jangan hanya membaca buku tentang bagaimana orang menggambarkan matahari terbenam. Capeee deeehh!!
Lembayung…Senja…Itu, sudah 3 juta buah buku sastra sudah begitu. Ya cukup sedikit saja: Matahari gelap. Malam menelan siang. Cukup!”
Hernowo: “Menurut saya, kalau banyak membaca, nanti bahasa seperti itu keluar dengan sendirinya itu!”
Andrea:“Iya, karena kita sudah meninabobokan diri kita dengan bahasa-bahasa yang terlalu sastrawi…Kita sudah sama sekali tidak terbuka otak supaya berpikir tentang konteks.”
Hernowo: “Ini, terakhir saja. Boleh membocorkan inti karya anda terakhir, ini…Ini sudah –ibaratnya kalau orang menanti makanan, saya sering ngundang makan, itu air liurnya sudah menetes-netes itu. Tega banget sama yang baca...”
Andrea: “Hahahaha!”
Hernowo: “Ndak. Supaya semua bisa mendengar suara anda sendiri, seperti apa sih gagasan intinya itu?”
Andrea: “Jadi, gagasan intinya itu…Maryamah Karpov itu masih buku tentang semangat. Jadi, inilah dia benang merah semua tulisan saya itu, semuanya bercerita tentang semangat.”
Hernowo: “Ya, semangat untuk memperbaiki hidup. Semangat untuk terus menerus memperbaiki diri…”
Andrea: “Tidak menyerah..”
hernowo: “Oke, oke..”
Andrea: “Maryamah Karpov masih buku tentang ironi. Tap, Maryamah Karpov karakter-karakternya lebih terfokus pada perempuan-perempuan. Juga, maryamah Karpov lebih fokus pada Sosiologi.
Dan saya selalu tertarik melakukan riset tentang perempuan. Saya selalu tertarik itu. Saya membaca buku tentang perempuan. Saya menemukan suatu fakta yang sangat menarik: Bahwa begitu banyak buku tentang perempuan yang menurut pendapat saya jarang sekali buku-buku itu menyorot tentang kekuatan perempuan. Tetapi lebih banyak perempuan sebagai victim*”
Hernowo: “Iya, iya…makhluk lemah dan segala macem begitu ya..”
Andrea: “Nah! Dan seluruh chemistry dari kisah itu adalah bagaimana perempuan bertahan menghadapi situasi yang tidak menyenangkan buat mereka. Maryamah Karpov buku tentang perempuan yang melawan keadaan itu, tentang perempuan yang bersiasat melawan budaya patriarki..Saya kira itulah ide besar dari ide tentang Maryamah Karpov ini..”
Hernowo: “Oke, oke..”
Andrea: “Dan ketika saya masuk ke dalam studi tentang perempuan Melayu, saya mendapati kenyataan yang luar biasa.”
Hernowo: “Dari mana anda dapat judul atau nama itu?”
Andrea: “Maryamah karpov tentu kata “Karpov” berhubungan dengan Anatomi Karpov*”
Hernowo: “Rusia..Hah? Pecatur ya?”
Andrea: “Nah…pecatur. “Maryamah” itu tetangga saya. Maryamah Karpov itu adalah seorang perempuan yang sebenarnya dalam “Sang Pemimpi” sudah mulai dihadirkan. Sekarang bagaimana hubungan dia dengan Anatomi Karpov…”
Hernowo: “Itu…baca saja, hahaha!”
Andrea: “Hahaha!”
Hernowo: Oke! Terima kasih ini, sebuah apa namanya..jawaban atau saya kira nanti pendengar di mizan.com akan senang sekali mendengar suara anda –biasanya kan baca ini..Ini nanti mau dimasukkan ke audio file ini..Thank you ya..!!”
sumber dari : http://terbangkelangit.multiply.com